September 18, 2019

Sign in

Sign up

Juni 10, 2019

Nyamuk Demam Berdarah : Kecil Namun Berbahaya

By admin@bewara 0 112 Views

(Agnes Hellen – Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana)

BEWARAJABAR.COM — Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dangue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty. Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus, yang ditandai dengan : Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan, termasuk uji Tourniquet positif, trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl), hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20%), disertai dengan atau tanpa perbesaran hati. (Depkes RI, 2005) Penyakit Demam Berdarah tidak mengenal golongan ekonomi. Seluruh masyarakat baik yang memiliki ekonomi di atas rata rata maupun kurang mampu, tetap memiliki peluang terjangkit penyakit demam berdarah. Dikarenakan nyamuk jenis Aedes Aegypti menyukai genanganan air yang bersih untuk berkembang biak dan meletakkan telur telur nyamuk tersebut. Sehingga tidak selalu orang orang yang tinggal dipinggiran yang memiliki peluang lebih besar terjangkit penyakit demam berdarah.
Insiden dan Faktor resiko :
Demam berdarah merupakan salah satu penyakit mematikan yang berbahaya di seluruh daerah. Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam 50 tahun terakhir meningkat 30 kali lipat. Sebanyak 50% penduduk dunia (3 milyar) rentan terhadap infeksi Virus Dengue dengan insidensi sebanyak 500 ̶ 100 juta per tahun. Kasus Demam berdarah terbanyak kedua, ialah di Jawa Barat dengan 2.204 kejadian di mana 14 meninggal dunia. Dilanjutkan dengan Nusa Tenggara Timur dengan 1.092 kejadian di mana 13 meninggal dunia, dan Sumatera Utara 1.071 dengan 13 orang korban meninggal dunia. Pada tahun-tahun sebelumnya,Kementerian Kesehatan mencatat terjadi 53.075 kasus DBD pada 2018, 68.407 kasus pada 2017, dan 204.171 kasus pada 2016. Hal demikian terjadi di daerah Jawa Barat sangat mungkin terjadi mengingat daerah Jawa Barat adalah daerah dengan curah hujan yang tinggi.
Virus Dengue yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah dibawa oleh vector penyakit yaitu nyamuk. Nyamuk yang membawa virus ini adalah nyamuk jenis Aedes Aegypti. Penyakit ini dapat menular dari satu manusia ke manusia lain melalui gigitan nyamuk. Gejala utama yang dirasakan oleh orang orang yang digigit nyamuk demam berdarah biasanya akan demam tinggi mendadak, kadang kadang pola bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri belakang bola mata, nyeri otot, tulang, sendi, mual, muntah dan timbul ruam (WHO, 2005).
Lingkungan sekitar rumah masing masing harus diperhatikan, tidak melulu tempat pembuangan sampah yang perlu kita perhatikan. Namun tanaman tanaman hias yang ditaruh dalam vas yang berisi air juga harus diperhatikan karena spot spot tempat tersebut dapat menjadi salah satu sarang untuk berkembang biak. Selain itu bak bak terbuka atau ember ember yang memungkinkan air menggenang perlu diperhatikan juga. Sesuai dengan menurut Sari , 2005 bahwa kepadatan penduduk dan kualitas perumahan menjadi faktor lingkungan penyebaran Demam Berdarah
Sebagai masyarakat yang baik dan pintar, cara untuk mencegah DBD tidak terlalu susah, cukup dengan melakukan gerakan 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur perlu digencarkan untuk memberantas penyakit demam berdarah. Kegiatan tersebut merupakan tindakan pencegahan penyebaran demam berdarah yang dapat dilakukan secara mandiri dan dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya. Diharapkan dengan selalu menjaga lingkungan tetap bersih penyakit Demam Berdarah di daerah Jawa Barat dapat berkurang
.

Referensi

Depkes RI. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Dirjen PP& PL.
Sari, Cut,I,N,. 2005. Pengaruh LingkunganTerhadap Perkembangan Penyakit Malaria dan Demam Berdarah Dengue. http://www.rudyct.com/PPS702- ipb/09145/cut_ irsanya_ ns.pdf
WHO. Preventing Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Division of Communicable Diseases, Geneva; 2005.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *