Sign in

Sign up

Mochammad Jiva Agung Wicaksono Atau Yang Biasa Dipanggil Jiva.

By on Juni 29, 2019 0 15 Views

Bandung, bewarajabar.com — PEMUDA kelahiran Bekasi, 29 September 1994 ini mengungkapkan bahwa ia menggemari banyak hobi yang bisa menunjang kompetensi dirinya. Seperti membaca, menulis, mendengarkan musik dan menonton seperti film, YouTube, Stand Up Comedy.

Mochammad Jiva Agung Wicaksono atau yang biasa dipanggil Jiva. Dalam mengisi waktu luangnya, selalu diisi dengan hal-hal positif. Demi mendorong produktifitas adalah hal yang senantiasa dilakukan oleh

Pemuda kelahiran Bekasi, 29 September 1994 ini mengungkapkan bahwa ia menggemari banyak hobi yang bisa menunjang kompetensi dirinya. Seperti membaca, menulis, mendengarkan musik dan menonton seperti film, YouTube, Stand Up Comedy.

“Awalnya suka membaca karena dari membaca, saya bisa mendapatkan suatu informasi atau ilmu. Tapi kemudian, membaca itu saya lakukan untuk mencari jawaban-jawaban yang sifatnya filosofis,” terangnya.

Sementara untuk menulis, pemilik tinggi 165 CM ini mengungkapkan bahwa menulis sebenarnya merupakan konsekuensi dari membaca. Ketika seseorang sudah cukup banyak membaca, biasanya secara naluriah akan menuangkan hasil bacaan dan analisisnya ke dalam tulisan. Hasil bacaannya juga dapat dijadikan sebagai pisau analisis ketika dia membaca situasi atau isu yang sedang terjadi.

“Selain itu saya juga senang mendengarkan musik, khususnya yang Mellow atau Slow, bisa membuat hati tenang. Dan saya juga senang menonton karena

bermanfaat sebagai pelengkap hasil bacaan. Banyak informasi atau pengetahuan yang saya dapat dari pesan-pesan yang disampaikan melalui film. Saat menonton stand up comedy bermanfaat untuk menertawakan kebodohan atau kesalahan yang senantiasa kita lakukan,” tambah penfavorit Seafood.

Ditanya soal harapan, Jiva mengatakan bahwa ia ingin menikah, sebab ia ingin memiliki mitra diskusi yang cukup intens dan mendalam, sekaligus ingin membuat sesuatu bersama-sama yang bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Untuk cita-cita, awalnya saya ingin menjadi seorang Dosen. Tapi seperti untuk saat ini sudah tidak realistik. Jadi saya mencoba untuk menerima menjadi Guru. Kenapa menjadi Dosen itu menarik bagi saya, karena Dosen itu bebas untuk bicara apa saja sesuai analisisnya termasuk ketika berada di dalam kelas. Berbeda dengan guru yang harus selalu bisa menyesuaikan diri dengan level lingkungan di mana dia tinggal. Guru juga tidak bebas, baik yang terikat oleh pemerintah maupun yayasan,” paparnya yang tulisannya kerap dimuat di penerbit mayor, koran dan media Online.

Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia ini juga saat ini tengah aktif mengajar di SMPN 12 Bandung, mengajar ngaji privat, membaca, menulis, membuat sebuah projek kecil-kecilan dengan komunitas arusbawah.id dan bergabung dengan beberapa komunitas sosial.

“Adapun tokoh idola agak banyak tapi yang paling mempengaruhi dalam membetuk Worldview saya adalah Cak Nun, Quraish Shihab, Mulyadhi Kartanegara. Untuk ilmu agama Islam saya banyak mengambil dari pak Quraish. Sedangkan, meskipun dari ilmu agama mungkin kalah dari pak Quraish, Cak Nun memiliki kelebihan dari banyak aspek lainnya, khususnya berkenaan dengan cara pandang hidup. Dan Prof. Mulyadhi adalah profesor Filsafat Islam yang bisa memberikan saya argumentasi rasional-filosofis-sufistis berkenaan dengan ajaran-ajaran Islam,” jelasnya.

Sulung dari tiga bersaudara ini mengungkapkan bahwa makna hidup yang ia resapi adalah pengalaman-pengalaman ruhani-mistik dengan Tuhan. Sehingga membuatnya yakin smpai hari ini ia masih berada di tahap ilmul yaqin, belum ainul yaqin apalagi haqul yaqin.

“Saya juga masih belum memiliki pemahaman yang jelas berkenaan dengan relasi Tuhan-Manusia. Kalau soal Tuhan itu ada atau tidak, saya memilih ada. Tetapi bagaimana relasi antara manusia dengan Tuhan. Saya masih kebingungan,” tambahnya.

Bagi Jiva memperoleh pengalaman mistik begitu penting, agar ia dapat menjalani sesuatu yakni beribadah dan berbuat kebaikan dengan penuh perjuangan karena sudah diyakini dan diberi dukungan secara langsung oleh-Nya.

“Terakhir saya juga ingin menyampaikan pesan bahwa manusia tidak boleh menjalankan kehidupan seperti manusia pada umumnya. Mereka harus mencari dan menemukan Worldview dengan cara menggalinya ke dalam diri sendiri, yang sebaiknya perlu dipandu oleh ahlinya.
Yang tidak saya suka, pada umumnya manusia itu egois. Dia hanya mementingkan diri dan orang-orang yang merepresentasikan dirinya saja. Harusnya dia bisa keluar dari zona tersebut dan mencoba peduli denga orang lain,” pungkasnya penuh semangat siang itu.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *