Sign in

Sign up

Mei 6, 2019

Mengikis Kesombongan di Bulan Ramadhan

By admin@bewara 0 144 Views

Perilaku manusia terbagi dua karakter. Pertama iman, persetujuan kepada Allah. Kedua, kafir, ingkar terhadap segala perintah-Nya. MANUSIA , jika kita mengubah dari Al-Qur’an, maka perilakunya akan terbagi dalam dua karakter. Pertama iman, persetujuan kepada Allah. Kedua, kafir, ingkar terhadap segala perintah-Nya. Meski ada satu kelompok manusia yang menyusahkan orang-orang beriman, yaitu kelompok orang-orang munafik. Kelompok ini tampak seperti Islam, tetapi senang jika umat Islam sengsara. Kembali pada soal kafir, lahirlah yang melahirkan sikap sombong dalam diri manusia. Dalam Al-Baqarah Allah menjelaskan kepada kita saat Allah berfirman menerima seluruh malaikat sujud untuk Adam, Iblis menolak.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرْانَ

“Dan (ingatlah) kompilasi Kami berfirman kepada para malaikat,” Sujudlah kamu untuk Adam! “Maka mereka pun sujud sebelum Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir . ”(QS. 2:34 ).

 

Ibn Katsir menjelaskan tentang kompilasi yang diberikan Allah kepada Malaikat, Iblis termasuk yang harus disetujui. Penyebab Meskipun Iblis bukan dari golongan malaikat, ia telah menentang mereka dan mengubah tingkah laku mereka. Ibn Jarir, meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, “Iblis itu bukan dari golongan Malaikat, Iblis adalah asli bangsa jin, diterjemahkan Adam asli bangsa manusia.”

Nah, penting digarisbawahi di sini, Iblis kemudian menolak permintaan sujud untuk Adam itu. Qatadah berkata, itulah yang menjadi alasan Iblis tidak mau menentang atas perintah Allah karena ada iri dalam dirimu Iblis terhadap Adam yang dimuliakan oleh Allah.

Lantas Iblis berkata, “Aku diciptakan dari api sedang ia (Adam) diciptakan dari tanah.”

Jadi, ini adalah dosa pertama kali, yaitu kesombongan musuh Allah, Iblis, yang mengaku tidak mau sujud kepada Adam, selain itu adalah permintaan-Nya. Dan, jangan diremehkan, kesombongan itu bisa mengajak seseorang masuk ke surga.

“Tidak akan masuk surga, orang yang ada di tempat tinggal, hanya ada biji sawi.”

Dengan demikian, untuk selamat dari menentang-niru atau bahkan sekarakter dengan musuh Allah, Iblis, maka kita harus membahas dengan sebaik-baiknya, yaitu sombong, membantah, tidak mau bertentangan dengan ketentuan Allah sejatinya tentang kesombongan, yang akan membahas tentang jalan mencari ridha dan surga-Nya.

Oleh karena itu, momentum Ramadhan mesti menjadi media kita kembali melihat hakikat hidup ini berdasarkan Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an dan Ramadhan adalah dua hal yang tidak dapat ditentukan. Bahkan di dalam Ramadhan inilah yang harus kita ambil roh Al-Qur’an untuk dibaca dan diaktualisasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Di melepaskan menanggalkan kesombongan, karena itu bukan pakaian untuk seorang hamba, seperti manusia. */Imam Nawawi

Next Post

Dan Semut Pun Berdzikir

Mei 8, 2019 0
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *