Sign in

Sign up

Sate Maranggi H. Aneng Sekarang Ini, Merupakan Generasi ke Dua.

By on Oktober 8, 2019 0 10 Views

Purwakarta,  bewarajabar.com – Salasatu yang menjadi Kuliner “Khas” dari Purwakarta. Apalagi kalau bukan Sate Maranggi.

Dan tempat makan Sate Maranggi di Purwakarta, memang terbilang lumayan banyak. Mulai dari yang tingkat restoran, Rumah Makan sampai tempat yang “menggelar” alias kaki lima.

Seperti yang terlihat di Jl. Suryawinata (Kebon Jahe) Purwakarta. Menilik tempat memang sangat sederhana sekali cenderung ditempelkan pada satu gardu listrik, sementara tempat duduknya, menggunakan papan kayu, serta pikulan sedangkan tempat menyimpan menyimpan nasi yang terbungkus daun pisang. Dan terlihat ada acar dan jelas dua rantang tempat bumbu Sate Maranggi yang “Khas” yaitu kecap yang sudah diracik dengan Cabe Rawit (Cengek: Bahasa Sunda) dan beberapa racikan khusus “Resep Leluhur”. Sate saja di trotoar.

Sate Maranggi H. Aneng sekarang ini, merupakan generasi ke dua.

“Bapak saya berjualan Sate Maranggi ini sejak tahun 1985. Dulu ada disebrang sana. Bapak bekerja sebagai Masinis Kereta Api. Dan berjualan Sate Maranggi merupakan sampingan, ”jelas anak H. Aneng yang tiga dari lima bersaudara ini.

“Saya memulai berjualan Sate Maranggi ini, sudah 15 tahun pindah jejak bapa H. Aneng (alm). Dan saya tidak berani membalikkan resep “Resep Leluhur” untuk bumbunya, ”imbuhnya lagi.

Tempat boleh sangat sederhana, tapi jangan salah Pejabat pemerintah daerah. Kerap makan di tempat ini. Bahkan tidak para Penikmat Kuliner sengaja datang dari Jakarta, Bandung, Cikampek, Karawang dan beberapa yang datang dari Makasar.

“Lucu banyak yang memesan dibakar lebih matang. Untuk dibawa ke rumah, Insya Allah rasa tidak akan berubah. Dan sate akan tetap renyah, ”jelas anak H. Aneng ini.

“Saya juga tidak mengerti, mereka bisa informasi dari mana ….?? Cuma memang tempat ini, pernah diliput dan ditayangkan di TV Nasional, ”imbuhnya lagi.

Jangan melihat tempat, tetapi rasa yang sangat berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Potongan daging sapi diselipin dengan potongan lemak atau (Gajih: Bahasa Sunda). Menambah aroma dan rasa semakin nikmat, bahkan sulit untuk berhenti makan. Tiba-tiba perut kenyang dan setengah tusuk Sate Maranggi dan beberapa bungkus nasi putih dibungkus daun pisang. Sudah menumpuk di meja. (HKS)

  Artikel
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *