Manggala Kembali Lapor Kejati Jabar Terkait Proyek BBWS

oleh

Bewarajabar.com |Kab.Bandung – Manggala Garuda Putih telah melaporkan kan resmi ke kejaksaan tinggi terkait kegiatan pembangunan kolam retensi Folder Andir di kabupaten bandung baru -baru ini.

Agus menjelaskan, laporan sudah kami sampaikan secara resmi melalui As Intel Kejati Jabar, adapun subtansi laporan yang di maksud, yaitu satuan kerja SNGT pelaksanaan jaringan sumber air citarum dengan nilai HPS Rp 166.693.235.342,- di menangkan PT ADHI KARYA (persero) Tbk dengan harga penawaran Rp 141.573.331.225,- sumber anggaran 2020 dari APBN kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat, ujar agus, Kamis 03/11/2022, di sekretariat Manggala, Gg. Nata , soreang kab bandung.

Agus memaparkan, dari hasil investigasi informasi dan fakta di lapangan:

Pada proses tahapan pelelangan sampai dengan evaluasi penyedia jasa tidak di lakukan secara taat, lengkap dan benar, sehingga tidak menghasilian penyedia jasa yang berkualifikasi sesuai  dengan kebutuhan yang diadakan.

Lemahnya manajemen kontruksi dalam pengelolaan perencanaan (rencana kerja), pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek.

Pengerjaan pembangunan kolam retensi folder Andir Kabupaten Bandung diduga kuat tidak mengacu pada gambar kerja dan RAB yang telah di siapkan pejabat pembuat komitmen (PPK)

Di dalam Dokumen pemilihan terdapat pekerjaan pembuangan diantaranya, buang hasil galian sejauh 500- 1000 m, buangan hasil galian 1000- 2000 m, buangan hasil galian dengan jarak 2000-3000 meter dan buangan hasil galian 3000- 4000 meter, namun kerjaan pembuangan yang di buang dengan jarak 3000- 4000 meter, kami tidak menemukan ada pembuangan tanah.

Memperhatikan hal diatas sudah sangat jelas PT ADHI KARYA telah melanggar ketentuan yang sudah di berikan pihak PPK.

lanjut agus, bukan hanya tentang galian, semuanya sudah saya paparkan dalam pelaporan, mudah mudahan sudah cukup untuk bahan telaah pihak kejati jabar.

Dan tentunya kami pun akan mendesak kejaksaan tinggi melalui As intel untuk segera melakukan penyelidikan untuk mengusut tuntas dugaan tindak pidana korupsi pembangunan kolam retensi dengan nilai anggaran Rp 141 Milyar lebih, agar permasalahannya menjadi terang benderang.