Jakarta, bewarajabar.com — Catatan Produser — Chand Parwez Servia
Pernikahan selalu jadi topik menarik dan tidak lekang waktu. Sebagaimana yang disampaikan dalam Hadist Riwayat Bukhari : 4700, “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”.
Prakteknya, pernikahan terjadi tanpa pacaran juga dengan pacaran. Nah, Novel Best Seller karya Eria Chuzaimiah (Mia Chuz) berjudul “Wedding Agreement”, memberikan Ilustrasi Dramatik seputar ini.
Ketika Archie Hekagery yang sudah saya kenal sebagai Sutradara Sitcom dan Series Televisi membawa Novel tersebut untuk dibuat film, saya membaca Novel nya. Saya juga melihat passionnya untuk jadi Sutradara film layar lebar. Pesan saya untuk Archie,
“Sampaikan isu besar yang cukup kontroversi tentang Pernikahan ini dengan ringan dan tidak menggurui,” tegas Parwez.
Kepiawaian Archie berhasil
menyuguhkan film “Wedding Agreement” menjadi film yang bukan hanya mengharu biru, tetapi juga membuat kita tersenyum.
Saya puas dengan karya Archie bersama Tim, juga deretan artisnya yang bermain sangat prima telah berhasil menjadikan film “Wedding Agreement” karya membanggakan. Bagi Starvision. Yang selalu menghadirkan karya debut Sutradara baru, di tahun 2019, Archie Hekagery adalah Sutradara ke-3 setelah Bene Dion Rajagukguk (Ghost Writer) dan Gina S. Noer (Dua Garis Biru). Insya Allah
sebagaimana pendahulunya, akan menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang layak untuk disimak.
Film “Wedding Agreement” sebuah perjalanan menemukan Mahabbah Ilahiyah, ilustrasi penting untuk ditonton siapa saja yang akan hidup berkeluarga.
Catatan Sutradara dan Penulis Skenario – Archy Hekagery
Alhamdulillah wa Syukurillah. Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla atas limpahan nikmatnya yang tidak terhingga.
Wedding Agreement adalah debut film layar lebar saya. Pertama kali saya membaca novel yang ditulis oleh Eria Chuzaimiah (Mia Chuz), rasa ketertarikan itu langsung menguat karena kisah ini bercerita tentang Islam tanpa perlu menggurui. (HKS)