Jumat, Oktober 30, 2026
Bewarajabar.com
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
Bewarajabar.com
No Result
View All Result
Home Nasional

Analisa Pakar: Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Fondasi Ekonomi & Agenda Pembangunan di Indonesia

Admin 001 by Admin 001
14 Agustus 2021
in Nasional
0
Analisa Pakar: Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Fondasi Ekonomi & Agenda Pembangunan di Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Bewarajabar – Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini menggarisbawahi lima masalah ekonomi politik pada masa pandemi Covid-19.

Hal ini diungkapkannya dalam webinar yang diselenggarakan Paramadina Public Policy Institute (PPPI) bertajuk “Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Fondasi Ekonomi & Agenda Pembangunan di Indonesia” yang dipandu oleh Ika Karlina Idris, Ph.D. (13/8/2021)

REKOMENDASI

PWI Pusat Matangkan Amandemen PD/PRT untuk Penguatan Organisasi Pers

PWI Pusat Matangkan Amandemen PD/PRT untuk Penguatan Organisasi Pers

16 Januari 2026
Jaksa Agung ST Burhanuddin menerima Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis 13 November 2025.

Jaksa Agung ST Burhanuddin Dorong Sinergi Pers dan Kejaksaan, PWI Pusat Siap Perkuat Literasi Hukum Nasional

13 November 2025
Situs Resmi PWI Diretas Usai Dualisme, Pengurus Janjikan Website Baru Lebih Aman

Situs Resmi PWI Diretas Usai Dualisme, Pengurus Janjikan Website Baru Lebih Aman

16 Oktober 2025
Menteri Hukum Terima Pengurus PWI Pusat, Blokir Administrasi Resmi Dibuka

Menteri Hukum Terima Pengurus PWI Pusat, Blokir Administrasi Resmi Dibuka

11 September 2025

Menurut Didik masalah pertama  yaitu fiskal yang rapuh dan utang besar.  Bahkan sebelum krisis, pemerintah Indonesia cenderung menggenjot utang untuk membangun. “Setelah covid, pemerintah memutuskan utang setiap tahun sangat tinggi, sekitar 1225 trilyun rupiah tahun lalu dan lebih tinggi lagi tahun ini. Ini akan menjadi warisan dan jebakan berbahaya bagi presiden berikutnya.” Katanya.

Masalah kedua adalah masalah kepemimpinan dan kebijakan yang tidak memadai dalam  mengatasi Covid-19. “Kepemimpinan diuji saat krisis. Dengan hasil seperti ini kepemimpinan dalam penanganan covid jauh dari memadai.” Katanya.

Masalah ketiga, Indonesia jatuh menjadi negara menengah bawah karena pertumbuhan rendah.  “Jika ekonomi terus tumbuh rendah saat ini dan masa mendatang, maka Indonesia potensial masuk ke dalam jebakan kelas menengah (middle  income trap.”

Keempat, ketergantungan ekonomi dan politik terhadap Cina sangat tinggi. “Indonesia mengalami defisit sangat besar dalam neraca perdagangan dengan Cina. Defisit turun sedikit karena covid dan tidak bisa impor maksimal tetapi defisit ini bersifat laten dan akan melemahkan sektor ekonomi luar negeri Indonesia. Nilai tukar rupiah akan selamanya lemah, apalagi dirundung defisit jasa, yang juga laten.” ungkapnya.

Kelima, Indonesia sekarang secara politik kehilangan prinsip bebas aktif. Politik luar negerinya sangat lemah, jauh dibandingkan di masa lalu.  “Saya melihat bahwa kepemimpinan Indonesia di dalam masyarakat internasional terutama ASEAN saja itu jauh sekali dibandingkan dengan masa-masa Ali Alatas walaupun income waktu itu sangat rendah, belum terlalu tinggi,” ucap Didik.

Managing Director PPPI, A. Khoirul Umam   mengungkapkan bahwa Isu ekonomi ini menjadi hal yang cukup krusial dalam konteks penataan pasca pandemi. “Beberapa aspek menjadi sensitif. Pemerintah meng-highlight dan di blow-up secara serius lompatan angka 7,07% sementara ekonomi rumah tangga tidak menggembirakan.”

Ia juga menyinggung skema strategi pembangunan di Indonesia dari basis optimisme “Dulu pemerintahan Jokowi mencoba menggenjot aspek infratruktur. Investasi infrastruktur dilakukan secara cukup eksesif dan diharapkan mampu mengakselerasi. Tetapi sementara waktu berjalan impact-nya belum signifikan bahkan sekarang dalam  situasi pandemi menjadi bumerang bagi indonesia dalam konteks ekonomi yang makin tersendat.” Katanya.

Ekonom Senior, Faisal Basri mengungkapkan jika krisis sebelumnya, termasuk Depresi Besar 1929-1939 dipicu oleh sektor keuangan maka krisis dewasa ini dipicu krisis kesehatan.

“Saving live is saving the economy. Yang terjadi bukan semata disrupsi ekonomi dan kesehatan, melainkan meliputi hampir semua aspek kehidupan sosial, budaya, politik dan pertahanan. Penyembuhan harus dengan pola pikir baru, lintas disiplin dan melibatkan semua pemangku kepentingan.” katanya

Lebih lanjut ia memaparkan strategi mengendalikan pandemi  “Kembali ke basic kembali ke kaidah kesehatan, memutus mata rantai penularan, prioritas utama adalah menyelematkan nyawa manusia, jangan dikomersialisasi¬kan, kepemimpinan nasional yang tangguh dan pengorganisasian yang apik, komunikasi publik yang efektif. Ini 5 prinsip dasar yang kurang atau tidak dijumpai di kita.” Katanya.

Pandemi ini perang yang diakui pemerintah lebih sulit dari perang konvensional, tapi kita tidak pernah declare  ada kedaruratan menghadapi covid. “Menghadapi covid sebagai business as usual, dengan menggunakan UU yang ada. sehingga muncullah piutang rumah sakit kepada Pemerintah 40 triliun, nakes tidak dibayar honorariumnya. “ kata Faisal Basri.

Pada kesempatan yang sama Faisal mengibaratkan Pandemi ini seperti membuka kotak pandora. “Struktur ekonomi Indonesia rapuh. Mayoritas penduduk masih tergolong insecure dan ketimpangan cenderung meningkat. Value extraction kian dominan ketimbang value creation, menyebabkan pertumbuhan produktivitas (total factor productivity) melambat bahkan mengalami penurunan. lebih mengandalkan otot dan keringat (perspiration) ketimbang otak (aspiration).” Katanya.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin  menyatakan bahwa krisis itu sebenarnya bisa menjadi turning point kalau dimanfaatkan dengan baik. Atau bisa jadi krisis itu membuat ekonomi suatu negara menjadi semakin terseok.

“Dalam banyak kasus sebenarnya krisis itu merupakan suatu momentum untuk melakukan turn around. Dalam kondisi normal beberapa kesalahan sulit untuk dibetulkan, karena pasti status quo mengharapkan sesuatu as it is. Krisis ini membuat apa yang selama ini dijustifikasi status quo itu sedikit berubah dan transformasi merupakan suatu yang tak bisa dihindari.” Kata Wijayanto.

Ia juga menganalogikan kondisi perekonomian Indonesia “Dinalogikan dengan Covid-19, maka komorbid utama perekonomian Indonesia adalah:  (1) Tingkat hutang Pemerintah, korporasi & rumah tangga yang tinggi (2) Kapasitas Fiskal Pemerintah yang terus melemah, (3) Current Account Deficit yang terus meningkat (4) Ketimpangan pendapatan, kekayaan & penguasaan tanah (5) Tingkat pengangguran yang tinggi dengan kualitas pekerjaan yang rendah (6) Regulatory uncertainty & inconsistency” katanya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menyatakan bahwa sebelum pandemi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertahan di angka 5% menunjukkan gejala inersia. “Suatu kondisi dimana perekonomian bergerak dengan kecepatan yang relatif konstan dan tidak memiliki daya dorong yang cukup untuk bergerak lebih cepat. Pandemi semakin memperumit usaha untuk melakukan akselerasi ekonomi dan meningkatkan risiko Indonesia masuk ke dalam jebakan kelas menengah.”

Ia juga menyinggung bahwa pemulihan ekonomi tidak akan efektif tanpa disertai penguatan kapasitas kelembagaan dan pengawasan terhadap praktik good governance, termasuk dalam penggunaan dana PEN.

“Transformasi ekonomi dibutuhkan agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, yang kita butuhkan minimal 7-8 persen per tahun dan mampu bertahan pada level tersebut selama beberapa dasawarsa.“ katanya

Dalam kesempatan yang sama ia juga menyatakan bahwa salah satu transformasi ekonomi yang perlu dilakukan adalah melakukan revitalisasi industri manufaktur, serta mendorong peningkatan nilai tambah pada sektor-sektor unggulan dan strategis, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah.

Tags: Covid-19dampak pandemiEkonomipandemi covidParamadina Public Policy InstituteProf. Dr. Didik J. RachbiniRektor Universitas Paramadina
SendShare196Tweet123
Previous Post

Rapat Bersama Forkompimda Babel, Kapolri Ingin Pos Penyekatan Kabupaten dan Kota Dioptimalkan

Next Post

Media Partner

RelatedPosts

Pansus 13: Perubahan Perda No 9 Tahun 2019 Harus Dilandasi Urgensi yang Jelas
Parlemen

Pansus 13: Perubahan Perda No 9 Tahun 2019 Harus Dilandasi Urgensi yang Jelas

14 November 2025
Bandung Raya

Agus Andi: Kewirausahaan Menambah Laju Ekonomi

19 Juli 2025
Indri Rindani Hadiri Talkshow Ruang Inspirasi di Radio MQFM Bandung
Regional

Indri Rindani Hadiri Talkshow Ruang Inspirasi di Radio MQFM Bandung

11 Februari 2025
COVID-19 Merebak Lagi di Indonesia, Pj Wali Kota Cimahi Tunggu Intruksi Pusat
Regional

COVID-19 Merebak Lagi di Indonesia, Pj Wali Kota Cimahi Tunggu Intruksi Pusat

27 Desember 2023
Bey Machmudin Resmikan Galeri Arsip COVID-19 Jadi yang Pertama di Asia Tenggara
Bewara Jabar

Bey Machmudin Resmikan Galeri Arsip COVID-19 Jadi yang Pertama di Asia Tenggara

22 Desember 2023
Melalui Berbagai Inovasi Pembiayaan, bank bjb Dukung Upaya Pemerintah Tingkatkan Ekonomi 
Ekonomi

Melalui Berbagai Inovasi Pembiayaan, bank bjb Dukung Upaya Pemerintah Tingkatkan Ekonomi 

30 April 2023
Rektor Universitas Paramadina Sebut KPK Melemah Karena Restu Jokowi
Nasional

Sebut Adanya Pemaksaan dalam Kasus Formula E, Prof Suparji: Itu Adalah Bagian dari Hilangnya Marwah KPK!

4 April 2023
Rektor Universitas Paramadina Sebut KPK Melemah Karena Restu Jokowi
Nasional

Rektor Universitas Paramadina Sebut KPK Melemah Karena Restu Jokowi

4 April 2023
Segera Tamat Riwayat Listrik 450 VA untuk Warga Miskin, Benarkah akan Dihapus? Siap-siap Pindah ke Daya 900 VA
Ekonomi

Segera Tamat Riwayat Listrik 450 VA untuk Warga Miskin, Benarkah akan Dihapus? Siap-siap Pindah ke Daya 900 VA

13 September 2022
Next Post
Media Partner

Media Partner

Media Online Bewarajabar.com membutuhkan Wartawan/Kabiro untuk ditempatkan di berbagai daerah di Jawa Barat & kota-kota besar lainnya di Indonesia

Media Online Bewarajabar.com membutuhkan Wartawan/Kabiro untuk ditempatkan di berbagai daerah di Jawa Barat & kota-kota besar lainnya di Indonesia

Brimob Jabar Semprotkan Disinfektan Masjid Ar – Rahman Sayang

Brimob Jabar Semprotkan Disinfektan Masjid Ar - Rahman Sayang

Leave Comment

Dian Kharisma Raih Miss Royale 2026, Perjalanan dari Panggung Kecantikan ke Aksi Sosial

17 Oktober 2026

Ketua PWI Jawa Barat Ingatkan Wartawan Utamakan Verifikasi

7 Oktober 2026

BRI RO Bandung Targetkan 500 Lelang, Capaian Hampir Rp200 Miliar

7 Oktober 2026

Hari Kopi Sedunia, TOP Coffee Bagikan 10.000 Gelas Kopi Gratis di 4 Kota

6 Oktober 2026

BAZNAS Jabar Dampingi Petani Cianjur, Alpukat yang Ditanam Lima Tahun Mulai Dipanen

6 Oktober 2026

Lendeng N D’Gank Tanam 250 Pohon di Kamojang, Bidik 3.000 Pohon di Jabar

5 Oktober 2026
Prev Next
No Content Available
Prev Next
Bewarajabar.com

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.

  • Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.