Jumat, Oktober 30, 2026
Bewarajabar.com
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
Bewarajabar.com
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Mengenal Maggot, Belatung Pemakan Sampah Organik

Admin 001 by Admin 001
11 Januari 2020
in Berita Terkini, Nasional, Ragam
0
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memprioritaskan penggunaan maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Kedua metote ini dinilai paling banyak memberikan manfaat dan elatif mudak diimplementasikan. Penggunaan manggot dan biopori vertikal disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Oded M. Danial pada awal pekan ini di Balai Kota Bandung. Menurutnya, penggunaan kedua metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menggunakan konsep Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui, apa itu maggot. Kenapa Pemkot Bandung menggunakannya untuk pengelolaan sampah? Bagaimana cara mendapatpan maggot? Begitu juga dengan teknik biopori vertikal. Mungkin masyarakat bertanya, apa bedanya teknik biopori vertikal dengan teknik biopori yang selama ini sudah banyak dilakukan? Dari dua metode tersebut, kita akan membahas maggot dan mengapa digunakan dalam pengelolaan sampah. Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF. Meskipun keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia. Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik. Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Maggot sangat cepat berkembangbiak. Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot pun mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Maggot mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Maggot memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30% sampai 40%. Dibandingkan cacing, maggot lebih menguntungkan sebagai pakan ternak karena lebih cepat berkembangbiak dan cepat bisa dipanen. Dari menetas sampai bisa digunakan menjadikan panak ternak, waktinya hanya sekitar 17 hari. Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot sangat cocok untuk peternakan dan pertanian organik. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia. Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik. Bagaimana, tertarik untuk membudidayakan maggot? Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis.*

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memprioritaskan penggunaan maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Kedua metote ini dinilai paling banyak memberikan manfaat dan elatif mudak diimplementasikan. Penggunaan manggot dan biopori vertikal disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Oded M. Danial pada awal pekan ini di Balai Kota Bandung. Menurutnya, penggunaan kedua metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menggunakan konsep Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui, apa itu maggot. Kenapa Pemkot Bandung menggunakannya untuk pengelolaan sampah? Bagaimana cara mendapatpan maggot? Begitu juga dengan teknik biopori vertikal. Mungkin masyarakat bertanya, apa bedanya teknik biopori vertikal dengan teknik biopori yang selama ini sudah banyak dilakukan? Dari dua metode tersebut, kita akan membahas maggot dan mengapa digunakan dalam pengelolaan sampah. Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF. Meskipun keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia. Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik. Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Maggot sangat cepat berkembangbiak. Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot pun mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Maggot mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Maggot memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30% sampai 40%. Dibandingkan cacing, maggot lebih menguntungkan sebagai pakan ternak karena lebih cepat berkembangbiak dan cepat bisa dipanen. Dari menetas sampai bisa digunakan menjadikan panak ternak, waktinya hanya sekitar 17 hari. Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot sangat cocok untuk peternakan dan pertanian organik. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia. Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik. Bagaimana, tertarik untuk membudidayakan maggot? Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis.*

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik.

Bandung, Bewarajabar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memprioritaskan penggunaan maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Kedua metote ini dinilai paling banyak memberikan manfaat dan elatif mudak diimplementasikan.

REKOMENDASI

Dian Kharisma Raih Miss Royale 2026, Perjalanan dari Panggung Kecantikan ke Aksi Sosial

Dian Kharisma Raih Miss Royale 2026, Perjalanan dari Panggung Kecantikan ke Aksi Sosial

17 Oktober 2026
Hari Kopi Sedunia, TOP Coffee Bagikan 10.000 Gelas Kopi Gratis di 4 Kota

Hari Kopi Sedunia, TOP Coffee Bagikan 10.000 Gelas Kopi Gratis di 4 Kota

6 Oktober 2026
dari Sound of Panca hingga Candu, Ini Musisi di Balik OST Menang Untuk Kalah

dari Sound of Panca hingga Candu, Ini Musisi di Balik OST Menang Untuk Kalah

20 September 2026
Samsung Kembangkan AI untuk Analisis Kesehatan dari Smartwatch

Samsung Kembangkan AI untuk Analisis Kesehatan dari Smartwatch

5 September 2026

Penggunaan manggot dan biopori vertikal disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Oded M. Danial pada awal pekan ini di Balai Kota Bandung. Menurutnya, penggunaan kedua metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menggunakan konsep Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan).

Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui, apa itu maggot. Kenapa Pemkot Bandung menggunakannya untuk pengelolaan sampah? Bagaimana cara mendapatpan maggot?

Begitu juga dengan teknik biopori vertikal. Mungkin masyarakat bertanya, apa bedanya teknik biopori vertikal dengan teknik biopori yang selama ini sudah banyak dilakukan?

Dari dua metode tersebut, kita akan membahas maggot dan mengapa digunakan dalam pengelolaan sampah. Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF.

Meskipun keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia.

Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik.

Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Maggot sangat cepat berkembangbiak.

Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot pun mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Maggot mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Maggot memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30% sampai 40%.

Dibandingkan cacing, maggot lebih menguntungkan sebagai pakan ternak karena lebih cepat berkembangbiak dan cepat bisa dipanen. Dari menetas sampai bisa digunakan menjadikan panak ternak, waktinya hanya sekitar 17 hari.

Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau.

Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot sangat cocok untuk peternakan dan pertanian organik. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia.

Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik.

Bagaimana, tertarik untuk membudidayakan maggot? Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis. (*)

Tags: Belatung Pemakan Sampahkang pismanMaggotMengenal MaggotOded M. DanialSampah Organikwali kota bandung
SendShare198Tweet124
Previous Post

Mang Oded Ajak Warga Bojongloa Kidul Bergaul dengan Kang Pisman

Next Post

Usung Swasembada Sayur, Wali Kota Minta Bandung Hidromarket Hadir di Tiap Kelurahan

RelatedPosts

Nina Fitriana Ajak Warga Teladani Pola Hidup Sederhana untuk Kurangi Sampah di Kota Bandung
Regional

Nina Fitriana Ajak Warga Teladani Pola Hidup Sederhana untuk Kurangi Sampah di Kota Bandung

6 Juni 2026
Konflik Bandung Zoo, Serikat Pekerja Mandiri Derenten Apresiasi Langkah Pemkot
Regional

Konflik Bandung Zoo, Serikat Pekerja Mandiri Derenten Apresiasi Langkah Pemkot

3 Maret 2026
Komisi IV DPRD Bandung Dorong Sinergi Garda Terdepan di Cigereleng, Ulung Serahkan Seragam
Regional

Komisi IV DPRD Bandung Dorong Sinergi Garda Terdepan di Cigereleng, Ulung Serahkan Seragam

28 Februari 2026
Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota, Bandung Masih di Persimpangan Jalan
Regional

Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota, Bandung Masih di Persimpangan Jalan

26 Februari 2026
UKW PWI Kota Bandung Angkatan ke-72 dan ke-73 Sukses Digelar, Tingkat Kelulusan Tembus 90 Persen
Regional

UKW PWI Kota Bandung Angkatan ke-72 dan ke-73 Sukses Digelar, Tingkat Kelulusan Tembus 90 Persen

13 Februari 2026
Pemkot Bandung Salurkan Rp2 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera, Wali Kota Farhan Tegaskan Gerak Cepat Kemanusiaan
Regional

Wali Kota Bandung Tegaskan Larangan Insinerator Mini, Pengelolaan Sampah Harus Patuh Arahan KLH

18 Januari 2026
Wali Kota Farhan: Kebun Binatang Bandung Tetap Difungsikan sebagai RTH
Regional

Wali Kota Farhan: Kebun Binatang Bandung Tetap Difungsikan sebagai RTH

26 Desember 2025
Pimpinan DPRD Kota Bandung menghadiri kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan pegawai negeri sipil, di Plaza Balai Kota Bandung, Rabu, 24 Desember 2025. Satria/Humpro DPRD Kota Bandung
Regional

DPRD Kota Bandung Hadiri Pelantikan 85 Pejabat, Dorong Pelayanan Publik Lebih Optimal

24 Desember 2025
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat berkunjung ke Kantor Pokja PWI Kota Bandung bersama pengurus PWI.
Regional

Farhan Tegaskan Kota Bandung Siap Gelar Konferensi PWI Jawa Barat 2026

24 November 2025
Next Post
Usung Swasembada Sayur, Wali Kota Minta Bandung Hidromarket Hadir di Tiap Kelurahan

Usung Swasembada Sayur, Wali Kota Minta Bandung Hidromarket Hadir di Tiap Kelurahan

Berbagai Komunitas Dukung Aktivasi Stadion GBLA

Berbagai Komunitas Dukung Aktivasi Stadion GBLA

Satpol PP Kota Bandung Sterilkan Moko di Jalan Diponegoro

Satpol PP Kota Bandung Sapu Moko di Jalan Diponegoro

Leave Comment

Dian Kharisma Raih Miss Royale 2026, Perjalanan dari Panggung Kecantikan ke Aksi Sosial

17 Oktober 2026

Ketua PWI Jawa Barat Ingatkan Wartawan Utamakan Verifikasi

7 Oktober 2026

BRI RO Bandung Targetkan 500 Lelang, Capaian Hampir Rp200 Miliar

7 Oktober 2026

Hari Kopi Sedunia, TOP Coffee Bagikan 10.000 Gelas Kopi Gratis di 4 Kota

6 Oktober 2026

BAZNAS Jabar Dampingi Petani Cianjur, Alpukat yang Ditanam Lima Tahun Mulai Dipanen

6 Oktober 2026

Lendeng N D’Gank Tanam 250 Pohon di Kamojang, Bidik 3.000 Pohon di Jabar

5 Oktober 2026
Prev Next
No Content Available
Prev Next
Bewarajabar.com

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.

  • Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.