Tepang Sono 58 Tahun Lingga Binangkit, Tetap Eksis di Tengah Perubahan

oleh

Bandung, bewarajabar.com – Para seniman, penyanyi dan musisi Lingkung Seni Lingga Binangkit Bandung, berkumpul kembali dalam acara temu kangen, di Bandung, Minggu (20/11/2021).

Acara bertajuk Tepang Sono Keluarga Besar ” Lingga Binangkit “, mengusung tema ” Nganyarkeun Nu Tiheula, Nganyarkeun Anu Jaga”, berlangsung meriah.

Grup musik legendaris dari Bandung ini dikenal sebagai perintis kasidah modern di tanah air, selain sebagai penggiat seni Sunda Cianjuran, Gending Karesmen, dan upacara adat.

Temu kangen para seniman ini dihelat di Restoran Mang Kabayan, Jalan Soekarno Hatta, Bandung.

Tamu undangan yang datang tidak hanya didominasi anggota komunitas Lingga Binangkit, tetapi turut hadir Pengurus HAPMI Jabar mewakili Kang Gun ( Ketua ) yang berhalangan hadir, serta anggota keluarga dan parabpartisipan.

Selain ajang kumpul dan silaturahmi, para anggota komunitas yang hadir juga menunjukan bakat nyanyi mereka di hadapan hadirin.

Ada yang menyanyikan lagu tradisional, kasidah, jazz, hingga lagu pop ciptaan Chrisye, Cintaku.

Bahkan Mamay Sumantri, legenda vocalis jazz Bandung, menyentak hadirin dengan lagu Sunda “Kabogoh Jauh” (Darso) dalam versi jazz.

Selain grup vokal, para tamu undangan juga dihibur pementasan musik oleh junior Lingga Binangkit, mereka membawakan lagu bergenre masa kini.

Pada kesempatan ini diserahkan pula penghargaan kepada para tokoh yang berjasa bagi Lingga Binangkit, yakni Ny Ayi Satrianah Bustomi, Moh Nasir, Moh Muslih dan Muhammad Nurmadin (Ubay).

Tentang Lingga Binangkit
Lingga Binangkit berdiri pada 20 April 1963 di Bandung, bertepatan dengan dilangsungkannya pementasan gending karesmen Leuwi Sipatahunan.

Acara itu diadakan untuk menyambut ulang tahun Harian Sipatahunan, surat kabar berbahasa Sunda pertama di tanah air.

Tokoh di balik berdirinya Lingga Binangkit adalah Tomi Boestomi, R. Ading Affandi (RAF), dan almarhum Nyonya Merry Mariam Muhammad. Lingga Binangkit berarti lambang kesuburan dan keindahan.

Selain memajukan seni Cianjuran, terobosan penting Lingga Binangkit adalah penggunaan gitar dan keyboard dalam seni kasidah.

Pada 1970-an, penggabungan dua alat musik modern dengan rebana tradisional tersebut memicu kontroversi, terutama dari kalangan pesantren.

Dalam perjalanannya, penggabungan itu bisa diterima masyarakat dan menjadi ciri khas Lingga Binangkit yang tak dimiliki grup lain.

Selanjutnya, kasidah dengan rebana, gitar, dan keyboard–lazim disebut kasidah modern– terus berkembang hingga kini. Lingga Binangkit bisa disebut sebagai salah satu pelopor kasidah modern.**