Narogong, Bewarajabar.com – Menghadapi kondisi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk memperkuat efisiensi dan pengelolaan air di seluruh area operasionalnya.
Langkah tersebut dilakukan melalui pengurangan penggunaan air baku, pemanfaatan kembali air hasil proses produksi, pengembangan sumber air alternatif, hingga penerapan teknologi untuk mengoptimalkan distribusi air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal.
Pemutakhiran BMKG pada Juni 2026 mencatat sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Durasi kemarau di sejumlah wilayah juga diperkirakan lebih panjang dari normal.
Pada akhir Juli, BMKG menyatakan El Niño 2026 diprediksi bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperkuat risiko kekeringan ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Solusi Bangun Indonesia Kurangi Pengambilan Air Baku
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Solusi Bangun Indonesia menjadikan efisiensi air sebagai bagian dari target keberlanjutan perusahaan.
Perusahaan menargetkan pengurangan pengambilan air baku sebesar 10 persen dibandingkan baseline 2019 pada 2030.
Namun, capaian hingga 2025 telah melampaui target tersebut. Solusi Bangun Indonesia mencatat pengurangan pengambilan air baku sebesar 45 persen.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, mengatakan perubahan pola iklim mendorong sektor industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.
“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi Sarwono.
Penggunaan Air Permukaan dan Air Tanah Menurun
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan Solusi Bangun Indonesia 2025, total pengambilan air baku perusahaan turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.
Pengurangan juga terlihat pada sejumlah sumber air.
Pengambilan air permukaan turun sekitar 18 persen, dari 841 megaliter pada 2024 menjadi 688 megaliter pada 2025.
Sementara itu, penggunaan air tanah berkurang sekitar 11 persen, dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter.
Di sisi lain, volume air hujan yang berhasil ditampung meningkat sekitar 9 persen, dari 676 megaliter pada 2024 menjadi 734 megaliter pada 2025.
Data laporan keberlanjutan Solusi Bangun Indonesia 2025 tersedia melalui laman resmi perusahaan.
Recycled Water Capai 563 Megaliter
Solusi Bangun Indonesia juga meningkatkan pemanfaatan recycled water atau air hasil daur ulang dari proses produksi.
Pada 2025, empat pabrik semen milik perusahaan memanfaatkan sekitar 563 megaliter recycled water dari proses produksi.
Jumlah tersebut setara dengan 31,7 persen dari total pengambilan air dan meningkat sekitar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemanfaatan kembali air menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku sekaligus meningkatkan efisiensi dalam kegiatan operasional.
Pabrik Narogong Olah Air Limbah untuk Digunakan Kembali
Upaya efisiensi air juga diterapkan di Pabrik Narogong, Jawa Barat.
Perusahaan mengembangkan inovasi pada fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terintegrasi.
Sistem tersebut dioptimalkan melalui proses koagulasi dan sedimentasi untuk menghasilkan kualitas air olahan yang lebih stabil.
Air hasil pengolahan kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan operasional pabrik.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 17.477 meter kubik air hasil pengolahan berhasil menggantikan penggunaan air tanah dan air sungai untuk kebutuhan operasional Pabrik Narogong.
Teknologi IoT Tekan Konsumsi Air Sungai
Selain pengolahan air limbah, Solusi Bangun Indonesia menerapkan teknologi Programmable Logic Controller (PLC) dan Internet of Things (IoT) dalam sistem River Pump Management di Pabrik Narogong.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengatur distribusi air secara lebih presisi sesuai kebutuhan operasional.
Penerapan sistem tersebut berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi air tawar dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.
Menurut Edi Sarwono, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan penggunaan air melalui efisiensi, pemanfaatan kembali air, serta penggunaan sumber air alternatif.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” katanya.
Upaya pengelolaan air tersebut menjadi bagian dari agenda keberlanjutan Solusi Bangun Indonesia dalam menghadapi perubahan kondisi iklim sekaligus menjaga efisiensi kegiatan operasional perusahaan.
















