Sumsel, Bewarajabar.com – Sebuah tragedi kecelakaan lalu lintas di Jalan Poros Desa Pulau Geronggang, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, memantik gelombang kritik terhadap hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) aparat Satlantas Polres OKI.
Keluarga korban menilai laporan polisi tidak sesuai fakta karena menyebut dua pelajar yang patah tulang di banyak titik sebagai “luka ringan”.
Peristiwa yang terjadi Senin, 1 Desember 2025 itu melibatkan sepeda motor yang dikendarai dua siswa SMA Negeri 1 Pedamaran Timur dengan sebuah truk Mitsubishi Canter.
Kedua korban yakni Adil Saputra (16) dan M. Kaka Restu Gulian (15) menderita patah tulang serius dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Palembang.
Dugaan Ketidaksesuaian Laporan Polisi Bikin Keluarga Shock
Suyono, kerabat korban yang ditemui wartawan di Bandung, Kamis 4 Desember 2025, mengaku terkejut sekaligus kecewa setelah menerima salinan laporan polisi yang dikirim melalui WhatsApp keluarga.
Dalam laporan itu, kondisi kedua korban tertulis “LR (Luka Ringan)”, yang menurut keluarga sama sekali tidak mencerminkan kenyataan medis.
“Keponakan saya, Adil, dirawat di RSUD dr. Mohammad Hoesin Palembang. Dokter menyebut patah tulang di tujuh titik. Kaka juga patah tulang dan dirawat di RS Hermina Jakabaring. Bagaimana mungkin ini disebut luka ringan?” kata Suyono yang juga Ketua Hukum Jurnalis Hukum Bandung (JHB).
Keluarga menduga ada kejanggalan dalam proses identifikasi luka korban yang tertera di laporan resmi. Mereka menilai aparat seharusnya melakukan verifikasi medis sebelum mencantumkan kategori luka dalam laporan.
Kecelakaan Berawal dari Truk yang Melaju Kencang
Menurut keluarga dan warga sekitar, kecelakaan terjadi ketika kedua siswa pulang sekolah mengendarai motor dan berada di jalur kiri. Dari arah berlawanan, sebuah truk Mitsubishi Canter melaju dengan kecepatan tinggi di jalan berbatu.
Kondisi jalan yang sempit dan tidak rata membuat korban sulit menghindar saat truk masuk terlalu ke tengah jalur.
Warga sekitar menyebut bahwa lalu lintas truk besar di jalur tersebut memang rawan dan sudah lama menjadi perhatian masyarakat.
Namun laporan polisi menyebut dugaan kelalaian justru berada pada pengendara motor yang “tidak memperhatikan kendaraan dari jalur kiri”. Versi ini membuat keluarga semakin murka.
Keluarga Minta Pengemudi Segera Diamankan
Selain mempertanyakan kategori luka, keluarga korban meminta aparat segera mengamankan sopir truk bernama Anton (24) demi kepentingan penyelidikan.
“Kami minta sopirnya ditahan. Jangan sampai seperti tidak terjadi apa-apa padahal dua anak ini patah tulang parah. Kami cuma ingin keadilan,” tegas Suyono yang akrab disapa Bang Yono.
Hingga artikel ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi Polres OKI terkait permintaan tersebut. Warga Pulau Geronggang menilai polisi perlu lebih teliti dan transparan dalam mengolah TKP, terlebih kecelakaan terjadi saat korban pulang sekolah dan berada di jalur yang benar.
Beberapa tokoh masyarakat menyebut laporan yang tidak sesuai fakta dapat memicu ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum.
Keluarga Siapkan Langkah Hukum Jika Temuan Tidak Diperbaiki
Bang Yono menegaskan keluarga akan mengambil langkah hukum, termasuk meminta pendampingan advokat dan melibatkan lembaga pengawas eksternal, bila laporan olah TKP tidak diperbaiki sesuai kondisi nyata.
“Kami tidak menuduh siapa-siapa, tapi laporan ini harus sesuai fakta. Jangan sampai luka berat disebut luka ringan hanya untuk menyelamatkan pihak tertentu,” ungkapnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut keselamatan pelajar dan integritas aparat dalam menangani kecelakaan lalu lintas.
Publik mendesak polisi segera:
– Mengklarifikasi dasar penetapan “luka ringan”
– Memeriksa ulang hasil olah TKP berdasarkan fakta medis dan saksi lokal
– Mengamankan sopir truk untuk pendalaman penyidikan
– Menghasilkan laporan resmi yang objektif dan profesional
Tragedi di Desa Pulau Geronggang ini membuka luka bagi keluarga dan masyarakat. Dua pelajar yang seharusnya pulang sekolah dengan selamat justru harus menanggung patah tulang di banyak bagian tubuh.
Namun yang lebih menyakitkan, menurut keluarga, adalah ketidaksesuaian laporan polisi yang dianggap meremehkan kondisi korban.
Kasus ini akan terus dipantau publik. Keadilan bagi Adil dan Kaka kini menjadi tuntutan bersama.***









































































Discussion about this post