PKL Sokong Pembangunan Masjid dan Madrasah

oleh

Para pengrus PKL diforo bersama dengan Kepanitian Pembangunan Masjid Jami dan Madrasah Nurul Abror. Foto diambil hari Minggu, 26/12/2021.


Oleh H.Jaenudin.S.Sos.

DALAM situasi sulit seperti sekarang ini, karena wabah Covid 19, sampai saat ini bayang – bayang Covid 19, belum berakhir. Apalagi sekarang teror Covid baru Omicron. Entah sampai kapan teror yang namanya Covid akan berakhir?

Salah satu sektor ekonomi yang dikelola oleh masyarakat, dan bertahan adalah, para pedagang kaki lima, ( PKL) kalau di perkotaan bahkan sering terjadi potensi konflik dengan aparatur pemerintah, karena kadang para pedagang nerjualan sampai bahu jalan dan mengakibatkan kemacetan.

Saat ini perkembangan pedagang kaki lima, berkembang sampai ke kampung- kampung atau desa khususnya yang memiliki lapangan atau tanah kosong, termasuk juga beberapa jalan pendek. PKL kalau di daerah, lebih populer disebut pasar ” tonggeng” atau pasar tumpah.

Sepertinya pasar tonggeng atau pasar tumpah sudah menjadi ikon, bagi warga masyarakat kecil, sampai menengah, untuk berbelanja keperluan mulai dari keperluan dapur seperti sayuran, termasuk barang- barang kepulauan di alat – alat / perkakas dapur, juga kelengkapan lainnya seperti pakaian.

Sejak Indonesia dilanda krisis ekonomi, ketika pemerintahan Presiden Seharto jatuh sampai saat ini, diera reformasi sebut saja di Bandung, beberapa tempat penjualan barang yang dilakukan para PKL seperti di aea Jl.Cibadak, Alun- Alun, Cimol Area Pasar Kebon Kelapa, lapangan Gasibu dan Cimol Gedebage, nama-nama tempat tersebut bagi warga masyakarat golongan kecil, menengah.

Namun jangan salah dibalik itu, disana terdapat juragan- juragan pemegang uang yang cukup besar, bahkan para pedagang banyak yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berjualan.

Sekarang beberapa tempat pedagang kaki lima khususnya di Bandung sudah tidak ada lagi, seperti area lapangan Gasibu, Cibadak, alun-alun sudah tidak ada, yang masih ada adalah, di daerah Tegalega dan pasar Gedebage ( Cimol).

Sementara didaerah pedesaan, pilemburan (kampung) juga perbatasan antara kota dan kabupaten, justru sebaliknya para pedagang kaki lima, atau lebih terkenal lagi pasar tonggeng/ tumpah, berkembang seiring dengan situasi dan keadaan bangsa ini. Khususnya dalam sektor ekonomi.

Apalagi Indonesia seperti diuraikan diatas masih belum terbebas dari wabah Covid 19. Sektor ekonomi masyarakat kecil yang dikelola oleh para pedagang kaki lima sangat memegang peranan penting, dalam menopang perekonomian masyarakat.

Fakta di lapangan bahwa sejak Indonesia dilanda Covid 19, banyak para pekerja yang di PHK khususnya dipabrik – pabrik, termasuk sektor lainnya seperti perhotelan, restoran dan tempat hiburan.

Bersyukur saat ini, dengan meredanya Covid 19 di Indonesia, beberapa perusahaan mulai bangkit dan pekerjapun pun ada yang direkrut kembali. Namun tidak serta merta, dapat membuat ekonomi pulih kembali.

Mampu Berikan Bantuan.
Di wilayah penulis, terdapat tanah kosong, secara kebetulan berada di depan mesjid yang sedang direnovasi dan keberadaan para pedagang ” tonggeng” ( PKL) sudah lama juga, pasang surut kegiatan pasar tonggeng memang naik turun ketika terjadi awal wabah Covid di Negeri ini.

Kita warga masyarakat dan para pedagang sepakat, tetap mengikuti peraturan dari pemerintah yaitu 3 M terkait prokes kesehatan. Saat ini situasi Covid 19 mulai mereda dan kegiatan aktivitas para pedagang mulai bangkit kembali, dengan tetap memperhatikan prokes kesehatan.

Kegiatan pasar tumpah / tonggeng di wilayah penulis, berlangsung seminggu sekali yang dilakukan pada hari Jum’at, dengan jumlah sekitar 80 orang, mampu memberikan bantuan pada pembangunan renovasi masjid jami dan madrasah Nurul Abror, sekali dapat dikumpulkan. Uang senilai Rp. 800.000.- Termasuk penjualan air minum, melalui kenceng berjalan yang dilakukan dari kepanitian pembangunan mesjid dan madrasah Nurul Abror.

” Kami jajaran kepanitian mengucapkan, terima kasih kepada para pedagang dan pengurusnya (sesepuh) pedagang tonggeng/PKL yang berjualan di wilayah Rt 01 RW 23, semoga amal kebaikan para pedagang yang dengan ihklas menyisihkan sebagian hasil dari penjualan makanan, minuman, keperluan dapur, alat dapur dan pakaian, diganti dengan rezeki yang lebih besar dari Alloh SWT.” **

Penulis, Ketua DKM Masjid Nurul Abror RW 23 Mekarsari, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah-Kabupaten Bandung.