R. Cahyadi Putera Daerah Penuh Kreatif, Namun Sayang Seribu Sayang Salah Satu Karyanya Hanya Terpampang di Rumdin

oleh

 

Kab. Bandung, Bewarajabar — R. Cahyadi yang akrab di panggil kang Yadi mulai menunjukkan bakat lukisnya pada tahun 1968, bakat tersebut dia asah hingga menghasilkan banyak karya dan menorehkan prestasi baik lokal maupun internasional.

Menurutnya, Melukis itu bukan hanya menghasilkan gambar atau menjadikan sesuatu objek tertentu yang secara instan divisualisasikan dengan tuntutan waktu, Sehingga lukisan yang dihasilkan walau pun bagus tidak sepenuhnya mengundang rasa.

Rasa itu sendiri perlu penjabaran secara signifikan agar setiap karya lukis yang ada bisa menggambarkan suasana interaksi psikologis antara lukisan dengan objek, Itu jelas merupakan apresiasi jiwa penggambaran dialog batin dimana seseorang merasa lukisan tersebut bisa memberikan kepuasan, sambungnya di rumahnya Komplek Gading Tutuka, Senin,13 Juni 2022.

Hal itu juga yang ia terapkan dalam sebuah Harpa kujang karyanya sendiri, dan di buat dengan pembiayaan sendiri sekitar tahun 2017 lalu, masa kepemimpinan Bupati bandung Dadang M. Naser, yang sampai saat ini terpampang di Rumdin ( Rumah Dinas) Bupati.

Ide pembuatan Harpa kujang bermula atas inovasi baru yang di persembahkan untuk pemda serta sebagai pengingat seni dan budaya di kabupaten bandung.

ng

Namun sayang seribu sayang karya seninya itu sampai saat ini hanya menjadi pajangan, tak pernah di gunakan sama sekali.

Jauh dari harapan kang yadi sebelumnya, dimana karyanya itu bisa menjadi bagian dari penyelenggaraan seni di manapun, padahal ia meyakini dengan melakukan kolaborasi antara seni dan suara melalui Harpa Kujang yang mungkin bisa lebih bagus serta menjadi salah satu ikon Kabupaten Bandung.

Untuk bembiayaaan pembuatan memang tidak seberapa namun yang memang mahal dan tak ternilai adalah ide dari Harpa kujang tersebut, yang mungkin tidak terbesit oleh semua orang.

Namun itu hanya sebatas keinginan dari seorang seniman, karna hingga saat ini, menurutnya karya seni hanya menjadi saksi bisu dari harapan dan keinginannya untuk menjadikan seni dan budaya tampil beda. (opik)