Jumat, Oktober 30, 2026
Bewarajabar.com
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda
No Result
View All Result
Bewarajabar.com
No Result
View All Result
Home Regional

Nina Fitriana Ajak Warga Teladani Pola Hidup Sederhana untuk Kurangi Sampah di Kota Bandung

Admin 001 by Admin 001
6 Juni 2026
in Regional
0
Nina Fitriana Ajak Warga Teladani Pola Hidup Sederhana untuk Kurangi Sampah di Kota Bandung

Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nina Fitriana, dalam sosialisasi penganganan sampah, di Taman Film Bandung, Jumat, 5 Juni 2026. Ariel/Humpro DPRD Kota Bandung.

Share on FacebookShare on Twitter

Bandung, Bewarajabar.com – Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nina Fitriana, mengajak masyarakat untuk kembali meneladani pola hidup sederhana masyarakat terdahulu yang dinilai lebih ramah lingkungan dan minim menghasilkan sampah.

Hal tersebut disampaikan Nina dalam kegiatan sosialisasi penanganan sampah di Taman Film Bandung, Jumat (5/6/2026).

REKOMENDASI

e-Voting di 92 Desa Jadi Langkah Baru Transformasi Digital Sumedang

e-Voting di 92 Desa Jadi Langkah Baru Transformasi Digital Sumedang

30 Oktober 2026
PWI Jabar Porwanas 2027, Komisi V DPRD Dukung Target Juara Umum

PWI Jabar Porwanas 2027, Komisi V DPRD Dukung Target Juara Umum

30 Oktober 2026
BAZNAS Jabar Resmikan Fasilitas Air Bersih di Tasikmalaya

BAZNAS Jabar Resmikan Fasilitas Air Bersih di Tasikmalaya

30 Oktober 2026
Bandung Digital Safety Forum 2026, PWI Jabar Soroti Ancaman Kejahatan Berbasis AI

Bandung Digital Safety Forum 2026, PWI Jabar Soroti Ancaman Kejahatan Berbasis AI

30 Oktober 2026

Menurutnya, pada masa lalu masyarakat telah terbiasa mengelola sampah organik secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing melalui cara sederhana, seperti mengubur sampah organik di lubang yang dibuat di pekarangan rumah.

“Tadi saya mengingatkan masyarakat kembali soal penanganan sampah yang dilakukan oleh orang tua zaman dulu. Sampah organik dimasukkan ke dalam lubang di pekarangan rumah,” ujar Nina.

Nina menjelaskan bahwa pada masa tersebut, penggunaan plastik dan kertas masih sangat terbatas sehingga volume sampah yang dihasilkan pun jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi saat ini.

Selain itu, masyarakat juga terbiasa menggunakan bahan alami dalam kehidupan sehari-hari, seperti daun sebagai alas makan serta penggunaan kendi untuk menyimpan air minum.

“Dengan pola hidup seperti itu, sampah yang dihasilkan sangat sedikit dan sampah organik selesai di pekarangan rumah masing-masing,” katanya.

Meski tidak mudah diterapkan sepenuhnya dalam kondisi saat ini, Nina menilai konsep pengelolaan sampah mandiri masih sangat relevan jika disesuaikan dengan kondisi kekinian.

Ia mengusulkan adanya langkah konkret berbasis kewilayahan, salah satunya dengan pembuatan lubang pengolahan sampah organik di setiap RT.

“Dengan membuat lubang di tiap RT, diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah organik di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat penampungan sementara (TPS) sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Nina menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaannya sejak dari rumah tangga.

Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat terus meningkat sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Selain itu, Nina juga menyampaikan harapan agar kawasan bawah Jembatan Pasupati ke depan dapat menjadi wilayah yang lebih tertata, bersih, aman, dan nyaman bagi masyarakat.

“Persoalan sampah ini harus menjadi gerakan bersama. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan,” tegasnya.

 

Tags: Komisi III DPRD Kota BandungLingkungan Kota BandungNina Fitrianapengelolaan sampah BandungSampah Organik
SendShare197Tweet123
Previous Post

Komisi II DPRD Kota Bandung Bahas Perubahan Status Perumda BPR Menjadi Perseroda

Next Post

Reza Panglima Ulung Dukung Penguatan Forum RT RW Kecamatan Regol

RelatedPosts

Komisi III DPRD Kota Bandung Tindaklanjuti Keluhan Warga soal Perluasan TPU Rancacili di Darwati
Regional

Komisi III DPRD Kota Bandung Tindaklanjuti Keluhan Warga soal Perluasan TPU Rancacili di Darwati

26 Mei 2026
Nina Fitriana Dorong Karakter Perempuan di Kota Bandung
Regional

Nina Fitriana Dorong Karakter Perempuan di Kota Bandung

10 Mei 2026
Komisi III DPRD Kota Bandung Evaluasi BRT dan Program Rutilahu
Regional

Komisi III DPRD Kota Bandung Evaluasi BRT dan Program Rutilahu

19 Februari 2026
Pemkot Bandung Salurkan Rp2 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera, Wali Kota Farhan Tegaskan Gerak Cepat Kemanusiaan
Regional

Wali Kota Bandung Tegaskan Larangan Insinerator Mini, Pengelolaan Sampah Harus Patuh Arahan KLH

18 Januari 2026
Komisi III DPRD Kota Bandung Soroti Pemeliharaan PJU dan PJL Jelang Natal dan Tahun Baru
Regional

Komisi III DPRD Kota Bandung Soroti Pemeliharaan PJU dan PJL Jelang Natal dan Tahun Baru

17 Desember 2025
Nina Fitriana Tekankan Kolaborasi Pentahelix untuk Solusi Masalah Kota Bandung
Parlemen

Nina Fitriana Tekankan Kolaborasi Pentahelix untuk Solusi Masalah Kota Bandung

10 Oktober 2025
Nina Fitriana dan Sendi Lukmanulhakim Dilantik Menjadi Anggota DPRD Melalui Pengganti Antar Waktu
Regional

Nina Fitriana dan Sendi Lukmanulhakim Dilantik Menjadi Anggota DPRD Melalui Pengganti Antar Waktu

25 Agustus 2025
Mantap, RW 07 Cihaurgeulis Kelola Sampah Organik Hingga 90 Persen
Regional

Mantap, RW 07 Cihaurgeulis Kelola Sampah Organik Hingga 90 Persen

5 Februari 2021
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memprioritaskan penggunaan maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Kedua metote ini dinilai paling banyak memberikan manfaat dan elatif mudak diimplementasikan. Penggunaan manggot dan biopori vertikal disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Oded M. Danial pada awal pekan ini di Balai Kota Bandung. Menurutnya, penggunaan kedua metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menggunakan konsep Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui, apa itu maggot. Kenapa Pemkot Bandung menggunakannya untuk pengelolaan sampah? Bagaimana cara mendapatpan maggot? Begitu juga dengan teknik biopori vertikal. Mungkin masyarakat bertanya, apa bedanya teknik biopori vertikal dengan teknik biopori yang selama ini sudah banyak dilakukan? Dari dua metode tersebut, kita akan membahas maggot dan mengapa digunakan dalam pengelolaan sampah. Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF. Meskipun keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia. Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik. Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Maggot sangat cepat berkembangbiak. Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot pun mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Maggot mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Maggot memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30% sampai 40%. Dibandingkan cacing, maggot lebih menguntungkan sebagai pakan ternak karena lebih cepat berkembangbiak dan cepat bisa dipanen. Dari menetas sampai bisa digunakan menjadikan panak ternak, waktinya hanya sekitar 17 hari. Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot sangat cocok untuk peternakan dan pertanian organik. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia. Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik. Bagaimana, tertarik untuk membudidayakan maggot? Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis.*
Berita Terkini

Mengenal Maggot, Belatung Pemakan Sampah Organik

11 Januari 2020
Next Post
Reza Panglima Ulung Dukung Penguatan Forum RT RW Kecamatan Regol

Reza Panglima Ulung Dukung Penguatan Forum RT RW Kecamatan Regol

dr. Agung Firmansyah Ajak Warga Bandung Peduli Kesehatan Pencernaan di World Digestive Health Day 2026

dr. Agung Firmansyah Ajak Warga Bandung Peduli Kesehatan Pencernaan di World Digestive Health Day 2026

BAZNAS Jabar Salurkan Rp251 Juta Bantuan Kurban dan Sedekah Daging untuk Palestina

BAZNAS Jabar Salurkan Rp251 Juta Bantuan Kurban dan Sedekah Daging untuk Palestina

Leave Comment

e-Voting di 92 Desa Jadi Langkah Baru Transformasi Digital Sumedang

30 Oktober 2026

PWI Jabar Porwanas 2027, Komisi V DPRD Dukung Target Juara Umum

30 Oktober 2026

BAZNAS Jabar Resmikan Fasilitas Air Bersih di Tasikmalaya

30 Oktober 2026

Bandung Digital Safety Forum 2026, PWI Jabar Soroti Ancaman Kejahatan Berbasis AI

30 Oktober 2026

Dian Kharisma Raih Miss Royale 2026, Perjalanan dari Panggung Kecantikan ke Aksi Sosial

17 Oktober 2026

Ketua PWI Jawa Barat Ingatkan Wartawan Utamakan Verifikasi

7 Oktober 2026
Prev Next
e-Voting di 92 Desa Jadi Langkah Baru Transformasi Digital Sumedang
Regional

e-Voting di 92 Desa Jadi Langkah Baru Transformasi Digital Sumedang

by Admin 001
30 Oktober 2026
0

Bandung, Giwangkara.com - Kabupaten Sumedang menjadi salah satu daerah yang mendorong transformasi digital pemerintahan hingga tingkat desa. Salah satu langkahnya...

BAZNAS Jabar Resmikan Fasilitas Air Bersih di Tasikmalaya

BAZNAS Jabar Resmikan Fasilitas Air Bersih di Tasikmalaya

30 Oktober 2026
Bandung Digital Safety Forum 2026, PWI Jabar Soroti Ancaman Kejahatan Berbasis AI

Bandung Digital Safety Forum 2026, PWI Jabar Soroti Ancaman Kejahatan Berbasis AI

30 Oktober 2026
PWI Jabar Porwanas 2027, Komisi V DPRD Dukung Target Juara Umum

PWI Jabar Porwanas 2027, Komisi V DPRD Dukung Target Juara Umum

30 Oktober 2026
Prev Next
Bewarajabar.com

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.

  • Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Bandung Raya
  • Bewara
    • BEWARA JABAR
    • BEWARA JATENG
    • BEWARA JATIM
  • Nasional
  • Regional
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Ragam
  • Infotainment
  • Pendidikan
  • Warta Sunda

Copyright © 2017. Bewarajabar.com All rights reserved.