BANDUNG, BEWARAJABAR.COM — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno menjelaskan cara menilai nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah kejuruan (SMK) tahun ini guna perpindahan. Hal tersebut disampaikan Totok pada acara Taklimat Media mengenai hasil UN tahun 2019 di Kantor Kemendikbud Jakarta, Selasa (7/5/2019) seperti dilansir akun media sosial Kemdikbud.ri.
Kenaikan nilai rata-rata SMA dan SMK UN, lanjutnya, tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Di naik, mata pelajaran matematika naik 1,53 poin, Inggris naik 1,19 poin, bahasa Indonesia naik 1,9 poin, dan teori kejuruan naik 1,4 poin.
“Sementara nilai rata-rata UN SMA meningkat, khususnya di kelas ilmu pengetahuan alam (IPA). Pada pelajaran bahasa Indonesia naik 1,58 poin, matematika naik 2,04 poin, naik Inggris 0,06 poin, fisika naik 2,2 poin, dan naik biologis 1,83 poin. Tapi, untuk pelajaran kimia 0,22 poin dan masalah ini masih dibahas, ”ujar Totok.
Untuk kelas ilmu pengetahuan sosial (IPS), tambahnya, terjadi kenaikan 0,34 poin untuk bahasa Indonesia, matematika naik 1,42 poin, bahasa Inggris naik 2,15 poin, dan geografi naik 0,13 poin. Selanjutnya di kelas bahasa, mata pelajaran bahasa Indonesia naik 1,4 poin, bahasa Inggris 1,56 poin, matematika naik 2,22 poin, sastra naik 0,03 poin, antropologi naik 1,27 poin, dan bahasa asing naik 0,12 poin.
Kemudian nilai rata-rata jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK), lanjutnya, bahasa Indonesia 65,72, bahasa Inggris 35,36, matematika 35,26, dan teori kejuruan nilai rata-rata 44,12 atau menurut nilai rata-rata 46 , 72.
“Kemendikbud telah mengirimkan hasil UN ke setiap daerah untuk ditindaklanjuti hasil diagnosisnya. Hasil UN dapat menjadi refleksi tentang kekurangan dan kelebihan agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas siswa, guru, dan sekolah di daerah masing-masing, ”katanya. ***