Bandung, Bewarajabar.com – Jawa Barat tengah dirundung kecemasan mendalam.
Di balik hiruk-pikuk pembangunan dan geliat ekonomi, ada “wabah” tak kasat mata yang pelan-pelan menggerogoti napas pemudanya: Judi Online.
Angka 2,6 juta warga yang terjerat bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan cermin dari hancurnya mentalitas generasi yang kini lebih percaya pada keberuntungan algoritma ketimbang kerja keras.
Fenomena ini telah menyusup masuk ke kamar-kamar kos, ruang kelas, hingga meja makan keluarga, mengubah gawai yang seharusnya menjadi alat produktivitas menjadi mesin penghancur masa depan.
Ridwan Ginanjar, penggerak muda yang kerap turun ke lapangan mendengarkan keluh kesah warga, merasakan betul dampaknya di level akar rumput.
Baginya, judi online adalah candu yang lebih berbahaya daripada narkoba karena ia menyamar sebagai peluang ekonomi.
“Banyak kawan-kawan muda kita yang awalnya cuma iseng, lalu terobsesi, dan akhirnya terjebak dalam ilusi instan. Saya selalu bilang, kalau mau kaya instan, jalan satu-satunya ya hanya lewat mimpi. Di dunia nyata, tidak ada makan siang gratis, apalagi dari bandar judi yang sudah pasti mendesain sistem untuk menguras habis apa yang kita punya,” ujar pria yang akrab disapa RG ini dengan nada tegas.
Ketegasan RG gayung bersambut dengan sikap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Melalui gaya komunikasinya yang khas dan kerap viral di media sosial, Kang Dedi Mulyadi (KDM) berkali-kali menyentil warga agar tidak “tertipu” oleh fatamorgana judi online.
KDM secara gamblang menyoroti ironi bansos yang justru habis untuk setor ke situs judi.
Bagi Kang Dedi, ini adalah musuh bersama yang harus diperangi dengan kesadaran kolektif.
KDM berulang kali menekankan bahwa ketahanan ekonomi Jawa Barat tidak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi keberuntungan yang rapuh, melainkan dari kedisiplinan mengelola uang untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat bagi keluarga.
“Bansos seharusnya diberikan kepada anak yatim, mereka yang kehilangan orang tua dan tinggal bersama kerabat, atau kelompok yang benar-benar membutuhkan. Bahkan, seseorang yang berpenghasilan Rp 5 juta pun bisa jatuh miskin karena biaya pengobatan. Bantuan harus difokuskan pada mereka yang benar-benar membutuhkan,” jelas Dedi, sebagaimana dikutip dalam artikel PikiranRakyat.com dengan judul “Dedi Mulyadi Hentikan Bansos untuk 49.431 Penerima di Jabar yang Gunakan Dana untuk Judi Online”.
Bagi RG, melawan judi online bukan hanya soal memblokir situs, tapi soal membangun kembali kepercayaan diri pemuda bahwa mereka mampu bersaing dengan kemampuan diri sendiri.
“Kita harus ubah pola pikir. Kenapa harus bertaruh untuk hal yang merugikan, kalau energi itu bisa kita pakai buat bikin sesuatu yang nyata? Gabung di komunitas, kembangkan skill, atau bantu sesama. Pemuda Jabar itu harus jadi subjek perubahan, bukan korban dari keserakahan bandar yang bahkan tidak peduli apakah kita bisa makan besok atau tidak,” pungkas RG menutup obrolan dengan nada menantang, mengajak para pemuda untuk segera “tobat” sebelum segalanya terlambat.










































































Discussion about this post