IPDN Tanpa Kekerasan               

1

Jatinangor, bewarajabar.com – IPDN ( Institut Pemerintahan Dalam   Negeri ) asalnya, APDN ( Akademi Pemerintahan Dalam Negeri ). Awal mula berdirinya di Malang Jawa Timur.  Pada tanggal 17 Maret 1956, dan diresmikan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno ( Geogle)  dan IPDN adalah Perguruan Tinggi Kedinasan tertua dan paling banyak diminati oleh kaum milenium.

Maka ketika terjadinya musibah di IPDN, penulis protes keras, atas meninggalnya seorang praja,  yaitu Cliff Muntu, Kontingen Sulawasi Utara, meninggal dunia tanggal 3 April 2007,  karena penganiayaan seniornya. ( sampai saat ini, merinding jika mendengar atau menulis kisah seorang Praja bernama Cliff Muntu).

Kayanya Kang Enang tahu angkatan, berapa ? Penulis, protes dengan cara membuat  artikel di ruang Opini “Gala Media” Tidak hanya Gala Media, semua media  cetak dan elektronik. Mengangkat peristiwa meninggalnya Cliff Muntu, menjadi head line.

Tanpa Kekerasan

Pasca, tragedi Cliff Muntu dan Menteri Dalam negeri di pimpin Prof. Ryass Rasyid, ada beberapa perubahan yang cukup signifikan sampai saat ini,  Rektor dipimpin oleh DR. Hadi Prabowo, MM. mulai ada pencerahan yang cukup signifikan, ini terangkum dalam pembicaraan para orang tua  Praja 2020, bahwa wajah sangar IPDN berganti menjadi Smart.

Hingga penulis berharap pihak IPDN, membuka ruang yang luas bagi orang tua Capra/Calon Praja, melalui medsos baik email, facebook, twiter, dan lainnya,  bahkan harapan orang tua Praja IPDN 2020, berita, terkait giat Pendidikan Praja sampai, Pelantikan. Informasi bisa  sampai ke Publik, melalui siaran pers yang disampaikan oleh Humas IPDN.

Tidak ada kebohongan

Dengan adanya keterbukaan dari pihak Rektor saat ini, salah satunya IPDN terlepas dari kekerasan. Apalagi Mendagri, Tito Karnavian Phd. secara tegas telah menegaskan kepada Praja Senior, pelatih dan semua stakeholder,   tidak ada kekerasan di IPDN, harus didukung oleh semua pengambil kebijakan, bahwa semua Praja harus sehat phisik dan mental, termasuk asupan gizi pemenuhan empat sehat , lima sempurna,  harus benar- benar dilaksanakan,  jangan ada pembungkaman kepada para Praja senior.

Ketika orang tua calon Praja,  menanyakan bagai mana Menu makan di IPDN. Dengan jawaban meyakinkan bahwa menu makan bagi Capra terpenuhi, ada buah, ada susu. Untuk saat didalam situasi Covid, orang tua Capra sangat memahami ada pemotongan anggaran bukan saja di IPDN, maka jelaskan kepada orang tua, bahwa yang namanya  Capra sedang dididik untuk jujur, mandiri dan memiliki semangat,  Agar kelak setelah keluar dari IPDN, menjadi ASN yang, tangguh, jujur dan  amanah. Khusus untuk anggaran Mamin Capra harus ada Wasdal dan audit yang terbuka. Ada semacam anekdot, dikalangan Capra, ” makan teh dengan lauk deui lauk deui.”

Kita harus mendorong bahwa IPDN harus tetap berdiri tegar. Mengapa hal itu penulis sampaikan, beberapa tahun kebelakang IPDN pernah diserang oleh beberapa birokrat politisi, aktivis mahasiswa. Seperti Gubernur DKI ketika dijabat oleh Basuki Cahaya Purnama alias Ahok. Bahkan Gubernur DKI  Ahok, pada tahun 2015, ( geogle) pernah mengusulkan kepada Presiden Jokowi, agar IPDN dibubarkan (beruntung tidak jadi Gubernur lagi)  malah masuk bui 2015.

Bukan tanpa alasan Ahok mengusulkan agar IPDN dibubarkan, dengan alasan ada pejabat lulusan IPDN yang mengumpulkan uang yang disetor ke Kejaksaan, agar para pejabat tersebut tidak ada pemanggilan ketika ada masalah dari Kejaksaaan.

Selain Gubernur DKI Jakarta Ahok, salah satu politisi senior, yaitu Agung Laksono, pernah  membuat stateman agar IPDN, dibubarkandan yang memprihatinkan adalah ketika terjadi peristiwa meninggalnya saudara Wendi, warga Jatinangor Sumedang, diduga dianiaya oknum Praja IPDN, dan sebagian warga  warga masyarakat Jatinangor, terprovokasi, akibatnya  ratusan pengemudi ojeg di lingkungan Jatinangor mengerudug kampus IPDN.

Pengukuhan Praja Pada tahun 2020 ada 1.058 orang Capra , dari seluruh Indonesia, yang dididik di IPDN, dan menurut informasi pada tanggal 4  Nopember 2020, akan dilakukan pengukuhan oleh Mendagri. Disini harusnya pihak IPDN minimal melalui Humas Humas IPDN, atau WA langsung kepada orang tua, dari jauh sudah memberikan informasi apakah orang tua Capra bisa hadir atau tidak, sehingga ada kepastian, jangan seperti saat ini orang tua dibuat galau, karena sampai Hari Jumat , tanggal 29 Oktober 2020 tak ada kabar berita.

Hingga penulis berpikir, ada apa, dengan IPDN dan bagaimana peran para pengambil kebijakan di IPDN?” biar kolot Capra  tidak ngarep-ngarep ceuk bahasa Sunda mah”

Bantuan Bank Jabar

Penulis, membaca melalui situs Geogle bahwa IPDN, pada tanggal 27 Nopember 2020 telah mendapat bantuan berupa CRS program dari Bank Jabar, kita berharap semoga bantuan tersebut dapat bermanfaat bagi pengembangan dunia pendidikan maupun pembangunan phisik di IPDN, sehingga kedepan pelayanan akan lebih baik lagi.

Tak ada gading yang tak retak, IPDN  dikelola oleh manusia,  tentunya ada kurang dan lebih. Kita doakan IPDN tetap Jaya dan lebih transparan  Bravo IPDN.*

H. Jaenudin, Penulis,  salah seorang, orang tua Capra Angkatan XXXI IPDN.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan