30 Camat di Kota Bandung Ikut Pelatihan ‘Berakhlak’, Ema: Harus Menjadi Orang Nomor Satu yang Terlihat Setia pada Pancasila

0

Bandung, BewaraJabar — Sebanyak 30 Camat di Kota Bandung mengikuti kegiatan Pelatihan Internalisasi Core Values Aparatur Sipil Negara (ASN) “Berakhlak” di Grand Pasundan Convention Hotel, Kota Bandung, pada 24-25 November 2021.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Joko Widodo melalui Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), yakni ASN harus memegang teguh satu nilai dasar dan semboyan yang sama.

Berakhlak merupakan fondasi baru berupa nilai-nilai dasar bagi ASN, yang juga akronim dari berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif’.

Kemudian, employer branding yang merupakan moto ASN dalam bekerja menggunakan semboyan “bangga melayani bangsa”.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mengatakan, berbicara mengenai nilai-nilai dan profesionalitas dari ASN, maka para Camat harus sudah paham. Karena jam terbang para camat telah banyak hingga mendapat jabatan dan jenjang eselon 3.

“Jadi pada saat nanti tim (dari ESQ165) ini akan memberikan berbagai penguatan, pencerahan, atau apapun untuk perbaikan kita semua, saya yakin bapak ibu tidak akan sulit memahami dan mengerti terhadap nilai-nilai atau substansi yang akan diberikan,” ucapnya saat membuka kegiatan, Rabu 24 November 2021.

Ema menilai, internalisasi core values ASN dengan tagline Berakhlak dan Employer Branding sangat luar biasa. Namun yang terpenting, setelah kegiatan, para Camat harus merefleksikan hal itu dalam kepemimpinannya.

Berakhlak tersebut juga sangat sejalan dengan nilai-nilai keagamaan, kenegaraan, dan Pemerintahan.

“Bagaimana ini bisa terefleksikan dalam perubahan sikap, perilaku, mainset kita, itu hal yang utama. Kalau saya berpedoman pada Perda Nomor 3 tentang RPJMD, misi satu itu sebetulnya beririsan dengan ini, untuk menghadirkan kualitas sumber daya manusia bukan hanya masyarakat tapi aparatur juga,” katanya.

“Sehingga berlandaskaan kepada nilai-nilai yang agamis sesuai dengan akidah dan keyakinan kita. Bapak ibu camat bukan hanya jadi pemimpin diri sendiri atau keluarga, tapi juga masyarakat. Ini beban tanggung jawabnya luar biasa,” lanjutnya.

Terkait berorientasi aspek pelayanan, Ema berharap para Camat bisa memberikan sebuah ‘legacy’ di wilayah kerjanya. Sehingga tidak akan muncul laporan oleh tokoh masyarakat atau sebagian masyarakat yang tidak puas dengan kepemimpinan Camat.

“Kedua, di sana ada nilai-nilai akuntabel, yang saya pahami adalah tanggung jawab, kejujuran pada diri sendiri, jujur dengan jabatan, kepercayaan ini jangan disia-siakan. Jadi nilai kejujuran atas dasar kepercayaan, kedisiplinan itu adalag keniscayaan,” ungkapnya.

Terkait Loyal, kata Ema, terutama dalam konteks kenegaraan adalah menjadi keteladanan. Camat harus menjadi orang nomor satu yang terlihat oleh masyarakat yang paling setia pada landasan ideologi pancasila.

“Lalu adaptif, kepekaan itu keniscayaan, orang yang tidak adaptif itu akan tertinggal, skill kita sedikit demi sedikit harus menyesuaikan, harus adaptif dengan situasi dan kondisi, terlebih sekarang sedang masa pandemi,” ucapnya

“Kemudian kolaboratif. Kita tidak bisa sendiri. Dalam strategi manajemen pemerintahan, ada Inovasi, Kolaborasi, dan desentralisasi. Itu pondasi yang luar biasa dari pimpinan kita,” imbuh Ema.

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa berharap dengan kegiatan ini dapat menciptakan satu budaya kerja yang mampu memberikan kontribusi positif.

“Baik itu terhadap kinerja pegawai dan organisasi, termasuk di dalamnya organisasi pemerintahan yang diawali dengan pembenahan sikap dan tingkah laku pemimpinnya,” katanya

“Kemudian diikuti oleh para bawahannya sehingga akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam perangkat satuan kerja atau organisasi,” lanjutnya.

Tinggalkan Balasan