Bandung, Bewarajabar.com – Universitas Sangga Buana YPKP (USB YPKP) Bandung menggelar kuliah umum bertajuk “Menuju Indonesia 2045: Anak Muda, Demokrasi, dan Pertahanan Bangsa”, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Inaugurasi REVOSA 2025 yang diikuti mahasiswa baru.
Forum akademik tersebut menegaskan peran strategis generasi muda sebagai penentu arah masa depan Indonesia, di tengah tantangan demokrasi, krisis lingkungan, hingga ancaman geopolitik global.
Antusiasme mahasiswa tampak tinggi saat menyimak pemaparan empat tokoh nasional dengan latar belakang dan perspektif kritis, yakni MS Kaban (mantan Menteri Kehutanan era Presiden SBY), Prof. Refly Harun (pakar hukum tata negara), Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), serta Rocky Gerung (pengamat politik).
Mahasiswa Penentu Arah Indonesia Emas 2045
Rektor USB YPKP Bandung, Dr. Didin Saepudin, menegaskan bahwa mahasiswa angkatan 2025 merupakan calon pemimpin bangsa yang akan berada di garis depan pada momentum Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, konsep pertahanan negara di era modern tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai kekuatan militer, melainkan mencakup ketahanan moral, karakter, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, serta persatuan nasional.
“Ancaman terhadap bangsa saat ini datang dalam berbagai bentuk, mulai dari hoaks, radikalisme, perpecahan sosial, hingga ketertinggalan teknologi. Semua itu hanya bisa dihadapi oleh generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berintegritas,” ujar Didin.

Senada, Wakil Rektor III USB YPKP Bandung, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P, menekankan pentingnya transformasi mahasiswa menjadi warga negara yang beretika, sadar politik, serta tangguh menghadapi ancaman non-tradisional.
“Universitas berkomitmen menjadi ruang dialektika agar mahasiswa tumbuh sebagai pemimpin merdeka yang siap menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” katanya.
Bonus Demografi Bukan Jaminan
Ketua Yayasan YPKP USB, Dr. Ricky Agusiady, mengingatkan bahwa bonus demografi yang dinikmati Indonesia pada periode 2020–2035 tidak otomatis menjadi modal keberhasilan bangsa.
“Bonus demografi bisa menjadi bencana jika tidak disertai pembinaan yang tepat. Generasi muda harus dipersiapkan sebagai subjek demokrasi dan pertahanan bangsa,” tegasnya.
MS Kaban: Jawa Barat Sudah Masuk Fase Bencana
Dalam pemaparannya, MS Kaban menyampaikan peringatan keras terkait kondisi lingkungan, khususnya di Jawa Barat. Ia menyebut provinsi tersebut telah berada dalam status ‘disaster’ akibat rusaknya sistem pengelolaan alam.
“Tutupan hutan Jawa Barat kini hanya sekitar 19 persen, jauh dari ideal 30 persen. Ini kondisi bencana, dan generasi muda yang akan menanggung dampaknya,” ujar Kaban.
Ia juga memaparkan penyusutan luas hutan nasional dari 137 juta hektare menjadi sekitar 110 juta hektare dalam satu dekade terakhir, serta mengkritik maraknya tambang ilegal dan kebijakan pemerintah yang dinilai inkonsisten.
Tak hanya soal lingkungan, Kaban juga menyinggung kondisi demokrasi yang dinilainya semakin elitis dan sarat praktik dinasti politik.
Demokrasi, Geopolitik, dan Ekonomi Disorot Tajam
Sementara itu, Prof. Refly Harun menyoroti lemahnya kebebasan sipil dan kecenderungan kriminalisasi terhadap pemikiran kritis. Ia menyebut demokrasi akan kehilangan substansi ketika kebebasan berpikir justru dibungkam.
Dari sudut pandang geopolitik, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengingatkan bahwa persaingan global atas sumber daya akan semakin keras seiring pertumbuhan penduduk dunia. Ia mempertanyakan kesiapan generasi muda menjadi pewaris kedaulatan bangsa, bukan sekadar objek kekuatan asing.
Adapun Rocky Gerung mengkritik kondisi ekonomi nasional yang dinilainya sarat paradoks antara pencitraan dan realitas. Ia menyinggung potensi krisis ekonomi akibat lemahnya fondasi struktural dan manipulasi data.
Panggilan Moral untuk Generasi Muda
Kuliah umum ini menjadi penegasan bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak lepas dari tantangan multidimensi, mulai dari krisis ekologi, pelemahan demokrasi, hingga tekanan ekonomi dan geopolitik.
Para narasumber sepakat bahwa masa depan Indonesia sepenuhnya ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini—apakah mampu hadir dengan nalar kritis, keberanian moral, kepedulian sosial, serta komitmen menjaga keadilan dan lingkungan.






































































Discussion about this post