Aksi unjuk rasa mogok nasional, menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law, selama 3 hari, di Gedung Sate dikotori aksi brutal, vandalisme, pembakaran fasilitas umum dari kelompok Anarko.
Berdasarkan pantauan penulis, di lapangan, “Anarko” terdiri darioknum para pemuda/pemudi penggangguran, preman, oknum mahasiswa dan anak sekolah yang belum mengetahui di lapangan Apa itu unjuk rasa? Penulis sempat bertanya, kepada 2 orang yang datang ke Gedung Sate ; “Ade, dari mana ? Dan apa pekerjaan?”

Ia mengatakan masih status pelajar di SMA di daerah Cibeureum. Dan, penulis bertanya apa maksud dan tujuan datang ke Gasibu? Mereka menyampaikan, bahwa kedatangan ke Gasibu karena ada undangan secara berantai melalui medsos untuk datang ke Gasibu, untuk nonton aksi unjuk rasa.
Penulis saat itu secara spontan berkata, agar segera kembali kerumah. Belum tuntas bicara. Dari sebelah barat, sudah ada lemparan sandal jepit dan botol bekas minuman air kemasan, yang dilempar ke arah buruh. Maka mulailah, terjadi kegaduhan dan buruh yang sedang orasi langsung meninggalkan area Gedung Sate.
Nah, situasi mulai memanas, terjadi saling lempar antara massa yang ada di sebelah barat dengan massa di sebelah timur. Menjelang jam 17.00 WIB, arah lemparan berbalik dari arah barat, timur dan Utara mengarah kepada jajaran kepolisian gabungan TNI-Polri, bukan lagi botol Aqua.

Mereka melempar dengan batu – batu yang berasal dari lapangan Gasibu.
Ciri khas Anarko
Mereka berpakaian hitam – hitam, kaos atau kemeja hitam, mereka terlatih dengan jaring terputus, artinya setelah massa berkumpul, aktor intelektualnya melarikan diri. Aksi Rusuh ketika buruh sedang memperjuangkan penolakan UU Cipta Karya Omnibus kawan seorang anggota Polri, bernama Bripka Aji terluka dan sempat dibawa ke RS. Boromeuos, serta mendapat mendapat beberapa jahitan, dibagian kepala karena dianiaya oleh Anarko, di seputar Posko mereka, di Jalan Cikapayang.
Kemudian juga dari kelompok anarko mengalami luka, terkena lemparan batu dari kelompoknya dan ketika berlari mereka jatuh sendiri, (Cilaka ku pamolah sorangan, Sunda-Red).
Selama aksi buruh dalam menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law 2020. Hadir Kapolda Jabar dan Pangdam 3 Siliwangi dan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil yang turun mengaspresiasi buruh, Kapolrestabes Bandung , Dandim dan pemangku Kebijakan lainya.
Aksi mulia para buruh telah dihianati anarko, dengan membuat aksi anarkis. Wajar Muspida Jabar mengucapkan terima terima kasih, kepada para buruh yang telah menjaga marwah aksi buruh dengan damai dan kondusif. Dengan fakta kongkrit, para pengusaha dihimbau oleh Gubernur, Walikota dan Bupati, memberikan bantuan tunai berupa sembako, atau uang tunai, karena gaji yang diterima berdasarkan keterangan, Kang Yana, dari Serikat Pekerja di Kabupaten sebulannya dibayar hanya Rp.1.800.000.- , dapat dibayangkan bagaimana beban berat para buruh seluruh warga Jawa Barat, dengan semboyan Silih Asah, Silih Asih dan Sili Asuh. Wajib menjaga Jawa Barat dan sekitarnya, dengan aman kondusif.
(Penulis : H. Jaenudin, S.Sos)




































































Discussion about this post