Menyongsong Generasi Emas di Era Globalisasi dengan Pendidikan, Sains dan Teknologi

oleh

Bewarajabar.com – Generasi emas merupakan generasi yang diharapkan memiliki kompetensi yang memadai, karakter yang kokoh, kecerdasan yang tinggi, berintegritas dan kompetitif. Generasi emas juga dimaknai sebagai ujung tombak dalam kemajuan bangsa.

Menurut Manulang (2013), salah satu kendala mewujudkan Generasi Emas Indonesia adalah krisis sumber daya manusia, utamanya krisis karakter. Pasalnya indonesia akan mengalami bonus demografi.

Dikatakan oleh Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah bahwa Bonus demografi adalah jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Dengan hal ini usia penduduk produktif Indonesia akan lebih banyak dibanding usia non produktif. Hal ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk peningkatan produktivitas para pemuda nantinya.

Hal ini tidak boleh dianggap sepele karena peran para pemuda lah yang andil dalam memajukan dan mensejahterakan bangsa. Dalam pemanfaatan bonus demografi ini tak luput dari peran pemuda yang akan memajukan dan mensejahterakan bangsa. Seperti yang diucapkan oleh Sang Proklamator Ir. Soekarno, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia.”

Kata-kata tersebut semakin mempertegas bahwa pentingnya peran generasi muda dalam kemajuan bangsa dan Negara.

Saat ini melihat arus globalisasi yang merupakan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi yang begitu cepat, tak dapat dipungkiri bahwa kita tidak bisa bertahan dalam era konvensional terus menerus, diharuskan dengan adanya keikutsertaan, kepahaman positif dalam globalilasi. Seperti dengan menyiapkan para pemuda untuk melek akan pendidikan, sains dan teknologi.

Hal tersebut saling berhubungan dikutip dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia sains berperan menciptakan teknologi baru, dan sebaliknya teknologi berperan menciptakan pengetahuan baru.

Kini laju perkembangan sains dan teknologi berjalan semakin cepat sedangkan kapasitas manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut secara komparatif terbatas atau lebih lambat.

Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam sains dan teknoloi dibandingkan dengan negara negara berkembang lainnya. Untuk itu perlunya kita sebagai pemuda penerus bangsa untuk mempunyai sikap dan pola pikir yang berlandaskan pola pikir yang kreatif dengan visi ke depan yang cemerlang.

Seperti dengan menanamkan sikap jiwa kritis, dan selektif dalam perkembangan arus globalisasi. Sebagai para pemuda penerus bangsa kita tidak boleh terlalu terlena dan menerima dengan apa yang terjadi namun kita harus ikut serta dan turut andil dalam mengembangkan negara untuk lebih maju.

Editor: Rian Andrian