3 Pilar Baleendah Cegah Potensi Konflik

oleh

Oleh: H.Jaenudin. S.Sos

SETIAP daerah memiliki karakteristik berbeda, namun demikian kita percaya bahwa masyarakat Jawa Barat adalah memiliki kultur ” Ramah Tamah. ” Sae Kasemah” artinya warga Jawa Barat adalah memiliki sifat ramah, santun terhadap warga lainnya, dan terbuka kepada warga pendatang.

Selain itu sifat ramah dan santun, Jawa Barat juga, memiliki kultur agamais religius termasuk Kabupaten Bandung dan daerah lainnya. Ini dikenal bukan saja di Indonesia namun dikenal sampai manca negara.

Maka dari itu, ketika muncul gejala, atau ancaman faktual ( AF), khususnya dalam agama, termasuk yang lainnya, para perangkat segera melakukan langkah preventif/pencegahan, khususnya para perangkat yang berada paling depan kalau dulu disebut Muspika dan saat disebut dengan istilah 3 (tiga) pilar bekerjasama dengan stakeholder lainnya.

Seperti, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kantor Urusan Agama (KUA). Dan ini dilakukan perangkat 3 (tiga) pilar Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Ketika muncul bibit potensi konflik di Wilayah RW 21 Mekarsari, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, dengan sigap 3 pilar (Lurah, Bhabinkamtibmas dan Babinsa) Kelurahan Baleendah, mengambil langkah cepat melalui koordinasi dengan stakeholder lainnya, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kelurahan Baleendah serta Kantor Urusan Agama ( KUA).

Sehingga masalah dapat dengan cepat diselesaikan. Pada akhirnya, kedua belah pihak yang berselisih sepakat menyelesaikan permasalahan dan dituangkan dalam surat pernyataan.

Dengan cepat tanggapnya, aparatur yang berada diujung tombak yaitu Lurah, Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas ( 3 Pilar ) sebagai kepanjangan dari Camat, Kapolsek dan Koramil. Kiranya kejadian ini patut dicontoh oleh aparat pemerintahan di wilayah lainnya.

Pertama Kali.
Ketua Majelis Indonesia (MUI) Kelurahan Baleendah KH.Gopur, menjelaskan selama dirinya menjadi Ketua MUI di Kelurahan Baleendah, permasalahan potensi konflik tidak pernah terjadi, baru saat ini ada potensi konflik yang mengarah kepada perpecahan antar sesama warga masyarakat pdi wilayah RW 21.

Penulis yang pituin berasal dari wilayah RW 21 Mekarsari, sebenarnya sudah berusaha untuk mencegah perselisihan dengan menghadiri acara pertemuan, antara ketua DKM Mesjid Jami Nurul Iman, H.Asep Suherman dengan Ketua RW 21 Gupron, dilaksanakan pada 7 September 2020, agar masalah dapat diselesaikan dilingkungan RW 21 saja.

Dalam pertemuan tersebut aparat keamanan yaitu Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas turut hadir. Alasan penulis menghadiri pertemuan yang berlangsung 7 September 2020, dikarenakan orang tua penulis adalah Nadzir (penerima wakaf) ketika menjadi Ketua RW 21 Mekarsari, sewaktu beliau masih ada (saat ini sudah meninggal) dari almarhum keluarga Harun dan ibu Amah.

Saat itu, penulis sudah mengingatkan kepada Ketua RW 21 saat ini, Gupron, agar tidak membawa bendera atau ormas keagamaan lain karena status Mesjid Nurul Iman adalah mesjid jami. Dan akhirnya bibit potensi konflik muncul kembali karena kesepakatan yang dilakukan diabaikan, oleh salah satu pihak.

Akhirnya, ketua DKM mesjid Jami Nurul Iman, berinisiatif melakukan koordinasi dengan ketua MUI Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandungk, dengan cepat ketua MUI Kelurahan Baleendah, mengambil langkah proaktif, melalui berkoordinasi dengan 3 pilar khususnya Lurah Baleendah dan bersyukur bibit potensi konflik dapat diselesaikan dengan baik.

Kedua belah pihak yang berselisih menyadari kekurangan yang terjadi. Mereka membuat pernyataan tertulis, salah satu poin penting dari Ketua RW 21 Mekarsari, akan mencabut plang yang sudah terpasang dan akan selalu berkoordinasi dengan DKM Mesjid Nurul Iman, jika ada kajian atau kegiatan apalagi yang berasal dari luar wilayah RW 21 Mekarsari, Kelurahan Baleendah, Kabupaten Bandung. **

Penulis, DKM Mesjid Nurul Abror RW 23 Kelurahan Baleendah Kabupaten Bandung.