Evaluasi PSBB Jabar : 12 Daerah Zona Kuning dan 15 Daerah Zona Biru

oleh

Tidak ada lagi zona merah, sementara zona biru akan menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru

Bandung, Bewarajabar.com— Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil melaporkan, termasuk 60 persen atau 12 daerah Zona Kuning (Level 3) dan 40 persen atau 15 daerah Zona Biru (Level 2) menggunakan pembanding sosial berskala besar (PSBB) proporsional di 27 kabupaten / kota se-Jabar.

Nantinya, 15 kabupaten / kota di Zona Biru yang diizinkan untuk menerapkan kebiasaan baru (normal baru) atau di Jabar dikenal dengan sebutan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal itu disampaikan Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– dalam pertemuan pers di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (29/5/20). 

Kang Emil berujar, keputusan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar, membuat AKB untuk Zona Biru, menggunakan data ilmiah di lapangan serta kesiapan sistem pengendalian pandemi COVID-19 di Jabar.

“Setiap pengambilan keputusan, kami harus berdasarkan data karena tidak ingin asal dan gegabah. Hari ini (29/5) angka putaran (Rt) sudah 14 hari di angka 1, bahkan dua hari terakhir di angka 0,97 juga naik ODP dan PDP Dan ada sembilan indeks untuk mengukur tingkat kewaspadaan itu, “ucap Kang Emil.

“Maka dalam kriteria ilmiah itu, zona yang masuk Level 2 (Zona Biru) terkendali, 60 persen yang Zona Biru inilah yang kami beri izin untuk melakukan Normal Baru atau yang kami sebut Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB),” kata Kang Emil.

Selain itu, hasil evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar menunjukkan, sudah tidak ada lagi daerah di Jabar yang berada di Zona Merah atau Tingkat 4.

Sementara 12 daerah berada di Zona Kuning atau Level 3 adalah Kabupaten Bandung, Kab. Bekasi, Kab. Bogor, Kab. Indramayu, Kab. Karawang, Kab. Subang, Kab. Sukabumi, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Cimahi dan Kota Depok.

Sementara 15 daerah di Zona Biru atau Level 2 yang bisa menerapkan AKB yaitu Kab. Bandung Barat, Kab. Ciamis, Kab. Cianjur, Kab. Cirebon, Kab. Garut, Kab. Kuningan, Kab. Majalengka, Kab. Pangandaran, Kab. Purwakarta, Kab. Sumedang, Kab. Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Cirebon, Kota Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya.

Kepada 12 daerah yang masih berada di Zona Kuning, Pemda Provinsi Jabar meminta persetujuan penerapan PSBB. 

“PSBB-nya kami bagi dua, untuk Bodebek (Bogor-Depok-Bekasi) karena klaster (gabung) Jakarta maka PSBB sampai 4 Juni. Yang tujuh (Zona Kuning) di luar Bodebek menerima bantuan PSBB secara parsial sampai 12 Juni,” ucap Kang Emil 

Kang Emil pun meminta daerah yang ada di Zona Biru untuk menyiapkan AKB, termasuk untuk kepala daerah untuk segera mengeluarkan Surat Edaran maupun protokol selama AKB.

Nantinya, AKB akan dibagi menjadi beberapa mabuk. Tahap pertama, diluncurkan kembali rumah-rumah ibadah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tahap kedua adalah bidang ekonomi, yaitu industri dan perkantoran karena melibatkan memiliki risiko kecil orang hilir mudik. Tahap ketiga, yaitu mulai eceran atau mal. 

“Jadi masyarakat jangan euforia, (AKB) akan dilakukan bertahap. Tahapan ini dievaluasi per tujuh hari atau minggu. Jika angka kurang baik, bisa saja (Zona Biru) PSBB lagi. (Daerah) yang siap 1 Juni silakan (AKB), yang belum jangan dipaksakan, “tegas Kang Emil.

Kang Emil menambahkan, akan ada 21 ribu aparat, terdiri dari 17 ribu personel kepolisian dan 4 ribu personel TNI yang akan mengawal AKB selama 14 hari. TNI / Polri, sesuai arahan presiden, akan memastikan protokol kesehatan tentang jaga jarak, pakai topeng, dan cuci tangan tetap dilakukan.

Selain itu, selama AKB, Kang Emil akan memastikan pihaknya akan merilis sekitar 400 ambulans dengan alat tes cepat untuk melakukan pengetesan masif.

“Ini untuk memastikan, jangan sampai AKBihkan kewaspadaan (terhadap penularan COVID-19). Nanti ambulan keliling di kawasan (kerumunan) yang diwaspadai,” katanya.

Secara umum, Kang Emil pun berujar bahwa Jabar sudah melewati PSBB skala besar. Saat ini, Pemda Provinsi Jabar berfokus pada skala sosial mikro ke desa / kelurahan yang masih Zona Merah dan terus mengupayakan tes masif terhadap 0,6 persen peserta atau sekitar 300 ribu orang.

“Jawa Barat kurang lebih melakukan pengetesan lebih dari 150.000. Target kami 300.000, kami berharap itu bisa kami capai dalam satu bulan ke depan seiring dengan datangnya produk-produk PCR dan tes cepat buatan lokal,” tutupnya.

red/