Pembangunan Teras Cihampelas Tidak Memenuhi Standar, Hingga Langgar RDTR

oleh

Bewarajabar | Bandung – Pembangunan Teras Cihampelas tahap dua berpotensi membahayakan nyawa hal itu karena diduga adanya kegagalan struktur.

Sangat disayangkan pembangunan Teras Cihampelas tidak sesuai dengan tujuan awalnya, dimana awalnya pembangunan ini dinilai bisa menyelesaikan masalah kemacetan di Jalan Cihampelas.

Cihampelas tidak butuh Teras Cihampelas jika hanya untuk relokasi PKL, dan memberikan hak untuk pejalan kaki berupa trotoar, dimana trotoarnya pun tidak nyaman untuk pejalan kaki.

Apalagi pembangunan Teras Cihampelas tahap dua ini menyisakan beberapa persoalan, berawal dari gagalnya perusahaan pemenang tender menuntaskan pekerjaan yang menghabiskan anggaran 21 miliar rupiah pada tahun anggaran 2018 lalu.

Projek di Teras Cihampelas tahap dua ini yang tidak memenuhi standar salah satunya baut yang harusnya galvanis, ini bisa korosif lalu kendur, dan bangunan ini bisa saja ambruk.

Folmer Sebut Pemanfaatan Teras Cihampelas Berpotensi Langgar RDTR

Komisi C DPRD Kota Bandung Folmer Siswanto M. Silalahi menyatakan, pemanfaatan Teras Cihampelas yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung berpotensi melanggar Rancangan Dasar Tata Ruang (RDTR) kota Bandung pasal 67 no 10 tahun 2015-2035.

Folmer melihat rencana awal dari pembangunan Teras Cihampelas itu adalah SKY WALK Pedestrian Layang diperuntukan bagi pejalan kaki, sebagaimana tertuang dalam pasal 67 perda no 10 th 2015-2035 tentang RDTR Kota bandung.

Namun saat ini Pemerintah kota Bandung malah mengalih fungsikan menjadi pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cihampelas, alias menjilat air ludah sendiri.

“Dari awal Pembagunan Teras Cihampelas sudah melanggar aturan,” tegas Folmer kepada wartawan, Kamis (27/10/ 2022).

“Bukan kita tidak peduli dengan PKL, tapi soal aturan yang dilanggar Pemerintah kota Bandung soal pemanfaatan ruang terbuka,” imbuhnya.

Terang politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu Pembagun Teras Cihampelas itu awalnya untuk mengurai kemacetan yang ada di kawasan Cihampelas.

Tapi saat ini dengan beralih fungsi malah muncul masalah baru. Seperti lahan parkir yg minim, kantung parkir yang tidak tersedia untuk pengunjung dan lainnya.

“Itu (Teras Cihampelas) sejak awal direncanakan untuk pejalan kaki, yang terhubung dari jalan Gelap Nyawang di Taman Sari sebagai Park and Ride, sehingga kemacetan yang disebabkan oleh parkir liar bisa terurai,” ujarnya.

Pembangunan yang meghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah itu dinilai tidak memenuhi standar bahkan berpotensi pada kegagalan struktur.

“Kita sudah ingatkan beberapa kali namun tidak pernah digubris,”ucapnya.*