Cara Mengatur Keuangan Ala China

oleh

Bewarajabar.com – Orang China di Indonesia identik dengan banyak uangbisnis, berdagang hingga kesuksesan. Indonesia tentu bukan hanya di wilayah yang dihuni oleh pribumi saja, akan tetapi banyak warga negara asing yang menetap di Indonesia.

Contohnya warga negara Barat hingga Asia tak sedikit yang menetap. Namun kebanyakan warga China atau Tionghoa yang sering kita temui, yang umunya sering kita jumpai di toko sebagai pemilik tokonya.

Melihat kesuksesan China di tanah air tentu saja mengundang banyak pertanyaan mengapa China bisa sukses di negeri orang, apasih rahasianya?

Ternyata salah satu rahasia masyarakat Tionghoa ini berada di pengaturan keuangannya. Untuk mengetahui lebih lanjut inilah rahasia mengatur keuangan ala China yang dilansir dari Idxchannel.com.

1. Rajin Investasi dan Menabung

Masyarakat Tionghoa gemar menabung dan berinvestasi. Tak tanggung-tanggung, mereka mengalokasikan sejumlah besar pendapatannya untuk menabung. Buktinya, di negara China sana, rasio tabungan nasionalnya memperlihatkan angka yang tinggi.

Laporan International Monetary Fund (IMF) berjudul China’s High Savings: Drivers, Prospects, and Policies (Desember 2018), menyebut China sebagai salah satu negara yang memiliki rasio tabungan nasional tertinggi di dunia. Secara historis, rasio tabungan nasional telah tercatat tinggi sejak tahun 1980-an, yaitu mencapai 35%-40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kemudian, setelah China tergabung ke World Trade Organization (WTO) pada 2001, rasio tabungan meningkat menjadi 52% terhadap PDB di 2008. Namun, setelah Global Financial Crisis (GFC), angkanya menurun menjadi 46% di tahun 2017.

Coba bandingkan dengan rata-rata rasio tabungan secara global yang hanya mencapai 20%. Sedangkan untuk negara berkembang hanya mencapai 15%.

Dalam hal investasi, Noah Research mencatat investor daratan China menempatkan dananya lebih banyak ke real estate yaitu 65%, lalu 20% dalam bentuk uang tunai dan deposito bank, sisanya ke asuransi dan dana pensiun, lalu saham dan reksadana.

2. Kerja Keras

Penulis Ann Wan Seng dalam bukunya Rahasia Bisnis Orang China, memaparkan kerja keras adalah harga mati sebuah kesuksesan. Orang China percaya bahwa sukses tidak bisa datang dengan cara instan. Jadi, apabila ingin melampaui kesuksesan seseorang, maka Anda harus lebih rajin dari orang tersebut.

Hal tersebut terbukti dari laporan Wealth-X, yang menyebut 94% dari taipan di China berhasil meraih kekayaannya berkat usahanya sendiri (self-made). Hanya 2% dari total 249 miliuner China yang kekayaannya berasal dari warisan.

Jumlah itu jauh berbeda dengan persentase miliuner di dunia. Hanya 55% miliuner dunia yang self-made. Sedangkan miliuner yang kekayaannya berasal dari warisan mencapai 13%, dan sisanya 32% menjadi miliuner berkat kombinasi antara warisan dan usaha sendiri.

3. Pilih Berdagang

Warga keturunan Tionghoa sangat identik dengan niaga. Lihat saja, banyak pusat perdagangan di kota-kota besar yang didominasi oleh pedagang dari kalangan etnis Tionghoa.

Masih dalam buku Rahasia Bisnis Orang China, berdagang memang jadi pilihan utama bagi mereka. Mengapa? Karena aktivitas yang satu ini memberikan banyak kebebasan ruang dan waktu. Berdagang juga memberikan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan dan uang tentu saja.

4. Uang untuk Menghasilkan Uang

Orang Tionghoa berpikir keras untuk menemukan cara agar keuntungan yang diperoleh dari suatu bisnis dapat diolah kembali menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Hal itu juga diungkapkan dalam buku Rahasia Bisnis Orang China. Jadi apabila meraih keuntungan, sebagian akan mereka simpan untuk mengembangkan kegiatan perdagangan serta menghadapi kemungkinan yang akan terjadi di luar dugaan. Sebagian lagi dapat dialokasikan untuk bisnis baru.

5. Hemat

Sebuah buku China klasik, Dao De Jing mengungkapkan bahwa tiga harta terbesar yang dapat dimiliki oleh manusia adalah cinta, berhemat, dan kemurahan hati. Selain itu, ajaran Konfusius juga mengatakan bahwa orang yang tidak ekonomis (pada akhirnya) pasti akan menderita.

Anda mungkin sudah bosan mendengar anjuran untuk berhemat. Namun, percuma jika Anda tidak mempraktikannya. Jadi mulai dari sekarang, Anda juga harus berusaha agar lebih hemat. Jaga agar pengeluaran Anda tidak lebih besar dari pendapatan.